Kendari, Radarsultra.co.id – Sebagai seorang tokoh pariwisata di Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua mengaku sangat mendukung program-program pembangunan objek wisata di Sultra, salah satunya pembangunan kebun binatang sebagai wahana satwa endemik.
Gagasan pembangunan kebun binatang pertama di Sultra ini berawal dari hobi seorang pecinta hewan yang mengaku prihatin dengan kondisi habitat satwa liar yang makin terhimpit oleh pembanguan yang begitu pesat di Sultra.
Belum sampai ke Pemerintah Daerah (Pemda) Sultra, konsep pembangunan kebun binatang tersebut telah mendapatkan respon yang sangat baik dari Ketua DPD PDI Perjuangan Sultra, Ir. Hugua yang bersedia memperjuangkan pembangunan kebun binatang tersebut.
Ir. Hugua berpandangan, gagasan tersebut harus menjadi salah satu target Pemda kedepannya, bukan hanya untuk perkembangan Sultra, namun juga kebun binatang bisa mendatangkan berbagai manfaat positif salah satunya di bidang pendidikan sebagai sarana penelitian.
” Jadi pemerintah juga harus memikirkan agar wahana kebun binatang di Sultra khususnya di kota Kendari itu bisa di programkan, sehingga anak-anak tidak hanya belajar lewat digital dan teknologi, tapi bisa melihat fakta di lapangan, karena hal itu merupakan riset cara pandang, bahwa teryata ular itu perlu makan, teman, perlu kasih sayang. Nah Untuk itu, sungguh meruginya pemerintah bila tidak memikirkan pembangunan kebun binatang,” kata Hugua, Rabu, (26/9/18).
“Karena itu menurut saya sangat mendesak pemerintah Sultra baik Gubernur maupun Pemkot harus segera memikirkan itu, khususnya di ibukota Sultra,”
Selain itu, Dewan Penasehat Komunitas Jurnalis Jalan-Jalan (KJ3) itu juga mengatakan siap menjadi penyambung lidah antara pemerintah dan sipemilik gagasan pasalnya ia berpendapat bahwa kebun binatang tidak bisa dikelola oleh swasta dan harus ada intervensi pemerintah.
“Kemudian DPRD salah satunya fraksi PDI perjuangan menjadi suatu atensi kepada saya untuk mencoba mensaunding kepada pemerintah daerah, bahwa kebun binatang tidak boleh diserahkan kepada swasta, harus ada intervensi pemerintah,” lanjutnya.
Bukan hanya itu, Ketua PHRI Sultra ini juga berpendapat bahwa kebun binatang ini kedepannya dapat membawa nama Sultra mendunia hingga bisa menarik perhatian para wisatawan mancanegara untuk datang ke Sultra hanya untukenyaksikan secara langsung hewan-hewan ikonik Sultra khususnya Anoa yang sudah mendunia namun wujudnya belum pernah disaksikan secara langsung.
“Kalau kita bisa membuat wahana satwa dan menampilkan satwa kita berupa Anoa dan Kuskus ini tentunya akan menarik turis mancanegara untuk terbang ke Sultra, karena di eropa hewan ini tidak ada, nah kalau pemerintah mau menyediakan itu, yah unsur pariwisatanya hebat, kemudian daerah kita juga pasti akan terkenal,” paparnya
“Tentunya disini pasti ada pendapatan daerah kan ada tiketnya, nah tinggal diatur berapa untuk pemerintah dan berapa swasta, kenapa diperlukan pihak swasta, karena pasti kan mereka yang memberikan makanan kepada satwa, tetapi karena itu juga menjadi obyek wisata, penelitian dan edukasi maka masyarakat harus membayar untuk membiayai namannya maintenance dan operasional disanalah kira-kira saling melengkapinya sehingga pemerintah harus memulai untuk merintis program ini, “tukasnya.






