Kendari, Radarsultra.co.id – Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir menyambut baik gagasan pembangunan kawasan Industri pengolahan nikel menjadi baterai di atas Lahan seluas 2.500 hektare di Kelurahan Tondonggeu dan Tobimeita, Kecamatan Abeli, Kota Kendari.

Sulkarnain mengatakan pembangunan kawasan industri di daerah tersebut menjadi bagian dari rangkaian panjang yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah pusat, yakni hilirisasi. Hilirisasi yang dimaksud yakni suatu strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki. Perkembangan industri yang menghasilkan bahan baku (industri hulu) menjadi industri yang mengolah bahan menjadi barang jadi (industri hilir).
“Pemerintah Kota Kendari menyambut baik gagasan untuk membangun kawasan industri, kalau di berbagai kabupaten memiliki nikel, ore, kita sudah harus memiliki perusahaan pengolahan baterainya, ini tujuannya supaya jangan dikirim mentah ke luar, supaya kita bisa memiliki nilai tambah, harapannya betul-betul bisa sudah keluar dalam bentuk baterai,” katanya, Kamis (14/4/2022).
Sulkarnain menambahkan, pembangunan kawasan industri ini merupakan persembahan bagi masyarakat Kota Kendari di penghujung masa jabatan nya berakhir.
“Ini bisa dikatakan menjadi pamungkas di masa periode bersama Wakil Wali Kota Kendari, ini bisa menjadi persembahan kami untuk masyarakat Kota Kendari,” ujarnya.
Pembangunan kawasan industri ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat Kota Kendari hal tersebut dilakukan karena Kota Kendari tidak sama dengan daerah lain di Sultra yang memiliki sumber daya alam berupa nikel dan hasil tambang lainnya.
“Kami Pemerintah Kota Kendari bertekad dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia, tentu dengan harapan nantinya memberikan dampak positif bagi masyarakat kita,” ucapnya.
Sementara itu Kepala Executive General Manager Of China Counstruction, Tang Liguo mengatakan, perusahaan ini telah memasuki pasar di Indonesia sejak tahun 2005.
“Sejak tahun 2005 perusahaan ini telah mengembangkan proyek-proyek energi, pengembangan smelter dan beberapa jenis lainnya,” ujarnya.
Pemilik PT. Kendari Kawasan Industri Terpadu Heri Asiku di tempat yang sama mengatakan, gagasan ini diharapkan bisa memberikan banyak manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Kendari.
Heri menjelaskan, pembangunan kawasan industri ini berada di dekat kawasan pemukiman, untuk itu pihaknya akan menggunakan teknologi ramah lingkungan yang tidak menimbulkan asap hitam.
“Karena pembangunan kawasan ini berada di Kota Kendari yang dekat dengan pemukiman maka teknologi yang akan di gunakan untuk mengolah nikel sangat ramah lingkungan tanpa adanya asap hitam,” jelasnya.
Rencananya pembangunan kawasan industri akan dilakukan di lahan seluas 1.200 Hektar are yang berada di kelurahan Tondonggeu sampai dengan Tobimeita.
Kawasan industri yang akan dibangun tersebut merupakan proyek kerja sama antara Pemkot Kendari, investor Cina China Construction Third Engineering Bureau Group, dan PT Kendari Kawasan Industri Terpadu (KKIT). Industri tersebut juga bakal menyerap ribuan tenaga kerja lokal, minimal 70 persen berasal dari masyarakat Kota Kendari atau dari Sultra.
Dalam pembangunan kawasan Industri tersebut di Kota Kendari, berikut syarat yang diberikan oleh Wali Kota Kendari kepada investor dari Cina:
- 70 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal Kota Kendari atau Sulawesi Tenggara.
- Tenaga kerja asing yang berasal dari Cina sebagian harus berstatus muslim.
- Teknologi yang digunakan dalam industri pengolahan nikel di Kota Kendari harus ramah lingkungan
- Perusahaan Umum Daerah (Perumda) harus masuk dalam salah satu pemegang saham






