Konawe Kepulauan, Radarsultra.co – Program pemantauan biodiversitas yang dijalankan PT Gema Kreasi Perdana (GKP) bersama akademisi berhasil membuka catatan ilmiah baru terkait kekayaan hayati Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tim peneliti mencatat sejumlah spesies yang sebelumnya belum pernah dilaporkan berada di pulau tersebut.
Pemantauan dilakukan sejak 2023 hingga 2025 di wilayah Wawonii Tenggara oleh Peneliti Biodiversitas PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO), Prof. Faisal Danu Tuheteru. Penelitian itu menyoroti kompleksitas ekosistem Wawonii yang dinilai belum sepenuhnya terdokumentasi.
“Dalam konteks biodiversitas, Wawonii masih menyimpan banyak celah data. Program pemantauan yang dilakukan secara konsisten seperti ini, memungkinkan kami menemukan jenis-jenis yang sebelumnya belum pernah tercatat,” ujar Prof. Danu, Selasa (12/5/2026).
Dari hasil inventarisasi fauna, tim peneliti mencatat 27 jenis burung endemik Sulawesi. Sebanyak 16 di antaranya merupakan catatan baru (new record) yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan berada di Pulau Wawonii. Sementara pada kelompok kelelawar, enam dari 11 jenis yang teridentifikasi juga menjadi catatan baru dibandingkan penelitian terakhir hingga tahun 2015.

Menurut Prof. Danu, temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan spesies di Wawonii selama ini masih terjaga, namun belum sepenuhnya terpetakan akibat keterbatasan riset jangka panjang di pulau kecil tersebut.
“Ini bukan hanya soal menjaga atau tidak menjaga. Ini soal data. Tanpa pemantauan yang berkelanjutan, kita tidak akan tahu bahwa spesies-spesies ini ada,” jelasnya.
Meski belum ditemukan spesies yang secara langsung masuk kategori terancam punah, tim peneliti mencatat sejumlah species of concern yang perlu mendapat perhatian khusus, seperti tarsius di kawasan hutan, burung maleo, dan penyu di wilayah laut.
Selain fauna, pemantauan flora mencatat sekitar 114 jenis tumbuhan, termasuk jenis endemik dan beberapa yang masuk kategori terancam punah. Data tersebut dinilai dapat memperkaya basis pengetahuan flora lokal yang sebelumnya masih terbatas.
Prof. Danu menegaskan keberhasilan pencatatan spesies baru tersebut tidak lepas dari dukungan program lingkungan PT GKP yang memungkinkan riset dilakukan secara konsisten dan sistematis.
“Kegiatan ini memang bagian dari program perusahaan. Namun secara ilmiah, kontribusinya signifikan karena membuka data biodiversitas yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Tanpa dukungan tersebut, riset jangka panjang di pulau seperti Wawonii sangat sulit dilakukan,” ujarnya.

Selain inventarisasi hayati, penelitian juga mencakup analisis kualitas air sungai, air laut, sedimen, hingga kandungan logam berat pada biota ikan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh parameter memenuhi baku mutu regulasi nasional maupun standar internasional.
Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, mengatakan data biodiversitas tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan pendekatan reklamasi pascatambang yang lebih ekologis.
“Dengan mengetahui jenis-jenis flora dan fauna yang ada, kami bisa merancang reklamasi yang tidak sekadar menutup lahan, tetapi mendukung pemulihan fungsi ekosistem. Termasuk memilih tanaman pionir, tanaman pakan satwa, hingga jenis yang berpotensi mempercepat kembalinya keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Ia menambahkan, pulau kecil seperti Wawonii membutuhkan pengelolaan yang sangat hati-hati agar keseimbangan antara aktivitas manusia dan keberlanjutan ekosistem tetap terjaga.
“Pulau kecil seperti Wawonii membutuhkan pengelolaan yang sangat hati-hati. Data biodiversitas adalah pintu masuknya. Semakin lengkap datanya, semakin besar peluang kita menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan keberlanjutan ekosistem,” tutup Badrus. ***






