Kendari, Radarsultra.co.id – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), dr. Asrum Tomboli mengatakan daerah yang menurut data memiliki jumlah gizi buruk tinggi dapat dikatakan daerah yang berhasil.
“Ketika wilayah tersebut berhasil mencatat jumlah gizi buruk yang terlampau tinggi, daerah tersebut dapat dikatakan berhasil. Bagaimana tidak, berarti petugas kesehatan dan bagian pendataan benar-benar bekerja dan turun kelapangan untuk melihat kondisi masyarakat umum,” ungkapnya dalam acara yang digelar BPJS Kesehatan disalah satu hotel di Kota Kendari, Selasa (1/8/2017).
Lanjutnya, hal tersebut dikatakan berhasil dari segi tenaga kesehatannya. Namun, belum berhasil dari segi kesejahteraan ekonomi masyarakat.
“Menurut data Dinkes telah mencatat jumlah gizi buruk di Sultra sebanyak 114 kasus berdasarkan laporan Dinkes kabupaten/kota untuk periode Januari hingga Juni 2017. Data ini merupakan akumulasi dari 17 kabupaten/kota se-Sultra,” tambahnya.
Sementara itu, untuk daerah terparah gizi buruk, Kepala Dinkes Sultra enggan menyebutkan. Sebab, katanya harus dikalkulasi dahulu.
“Sejauh ini daerah terparah belum bisa disebutkan karena harus dikalkulasi, lihat dulu perkembangan ditiap kabupaten/kota. Tapi pada prinsipnya jika ditemukan gizi buruk walaupun cuma satu saja itu sudah masalah besar yang butuh penanganan serius,” jelas Arum Tombili.
Dalam hal ini, penanganan yang telah dilakukan oleh Puskesmas, diharapkan bisa berperan aktif dalam upaya mengidentifikasi sedini mungkin permasalahan gizi buruk ini. Sehingga tidak menimbulkan jumlah yang terus bertambah.
“Minimal satu tahun sekali mengunjungi warga di sekitar daerahnya, sebagai upaya meminimalisir anak-anak yang mengalami gizi buruk, walaupun tidak bisa dipungkiri hal itu erat kaitannya dengan masalah kemiskinan, ” tuturnya.
Asrum berharap pemerintah serta stakeholder lainnya dapat berperan baik dan maksimal dalam penanganan gizi buruk tersebut.
“Maka kita terus melakukan penanganan serius mengenai persoalan gizi buruk, kalau perlu daerah jangan malu jika di daerahnya ditemukan hal tersebut, malah harus bangga karena sudah mengantisipasi kedepannya agar tidak terjadi pada anak-anak yang lain,” tutup Asrum. (C)






