1

Pantauan DLH Kabupaten Konkep, Tidak Ada Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Tambang

Kepala DLH Konkep: Tidak Ada Bukti Kerusakan Lingkungan Akibat Pertambangan di Pulau Wawonii

Kadis DLH Kabupaten Konkep, Muh. Rustam Arifin
1

Wawonii, Radarsultra.co – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Muh. Rustam Arifin menyatakan bahwa hingga saat ini belum terdapat indikasi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan di Pulau Wawonii.

Menurutnya, hasil pemantauan dan analisis yang dilakukan oleh Dinas yang dipimpinnya menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di Pulau Wawonii masih terjaga dengan baik.

1

“Dalam hasil pemantauan dan penelitian yang kita lakukan setiap semester, baik secara administratif maupun teknis, kami belum menemukan tanda-tanda kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh usaha pertambangan di Pulau Wawonii,” ungkap Rustam Arifin, Kamis, (31/8/2023).

Ia menerangkan, terdapat tiga laporan semester serta pantauan langsung yang telah dilakukan pihak DLH Konkep dalam kurun waktu dua tahun kepemimpinannya, dan semuanya menunjukkan bahwa lingkungan Kabupaten Konkep masih dalam kondisi baik.

Kendati demikian, terdapat isu yang menyebutkan bahwa aktivitas pertambangan berdampak pada punahnya beberapa hewan khas Pulau Wawonii.

“Kita berharap, kondisi seperti itu tetap dipertahankan. Kalaupun ada isu-isu yang menyudutkan, maka akan terjawab sendiri dengan kondisi yang sesungguhnya yang terjadi di lapangan,” terangnya.

Pria yang telah lama tinggal di Pulau Wawonii ini juga menjawab isu hewan khas pulau Wawonii yang saat ini sedang terancam keberadaannya, isu yang beredar, beberapa hewan seperti  burung Monde atau Maleo sudah tidak pernah terlihat lagi di Wawonii.

Menanggapi hal tersebut, pria berusia 54 tahun yang lahir dan besar di Wawonii
ini menegaskan bahwa, ada beberapa hewan yang memang pernah ada seperti burung Monde atau semacam Maleo yang pernah hidup di Pulau Wawonii.

Menurutnya, pada era 70 dan 80-an, burung-burung tersebut memang ada. Namun, memasuki era 90-an burung-burung tersebut sudah tidak pernah terlihat lagi.

BACA JUGA :  PT GKP Hadirkan Program Rumpon, Tingkatkan Produktivitas Nelayan Lokal Wawonii

Pria tersebut menjelaskan bahwa perubahan ini lebih berkaitan dengan pertumbuhan penduduk dan pembukaan lahan daripada dengan aktivitas pertambangan.

Dia mengungkapkan bahwa sejak era 70-an, permukiman penduduk semakin merata, terutama di daerah pantai yang menjadi habitat alami bagi burung Monde. Dengan perubahan ini, burung Monde secara perlahan mulai menghilang.

“Jadi, semisal burung monde ini, dulu memang pernah ada. Namun, sekarang sudah tidak ada. Jauh sebelum kegiatan pertambangan berjalan. Saya beberapa kali ngobrol dengan warga di daerah RokoRoko Raya, rerata yang berusia 30-35 tahun, tidak pernah tahu jenis burung itu lagi,” jelasnya.

Demikian halnya juga dengan Rusa atau Masyarakat Wawonii menyebutnya dengan Jonga. Dahulu jumlahnya lumayan banyak, namun, memasuki tahun 80-an, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pembukaan lahan yang dilakukan oleh Masyarakat, secara tidak langsung Jonga-jonga tersebut akan mencari lokasi lain yang jauh lebih aman.

Tidak hanya itu, Rustam menambahkan, pada kasus Jonga, juga ditemukan aktivitas perburuan yang dilakukan yang menyebabkan populasi hewan tersebut terus berkurang.

Meski demikian, Rustam meyakini, saat ini di beberapa wilayah di Wawonii, Jonga atau Rusa masih ada, tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit.

Hal ini juga diakui oleh warga Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Rusdin (40).

Menurut Rusdin, di masa lalu, terdapat anyak jonga yang berkeliaran di dekat kampung. Lokasi aktifitas Jonga biasanya berada tidak jauh dari kali Roko-Roko Raya dan sangat dekat dengan jalan utama saat ini.

Namun, di era setelah 80-an, jumlahnya
makin menipis dan lambat laun, jonga tidak pernah terlihat lagi di wilayah Roko-Roko Raya.

BACA JUGA :  Komitmen Reklamasi Pasca Tambang, GKP Resmikan Pusat Pembibitan Tanaman

“Dulu di dekat kali sini, masih banyak alang-alang. Jonga banyak sekali. Lambat laun mulai hilang, karena mulai ada yang buka lahan ke atas ditambah ada juga yang berburu, sehingga saat ini, sudah
tidak ada lagi jonga di sini,” kata Rusdin.

Rustam Kembali menegaskan, sebagai putra daerah Wawonii dan juga sebagai Kepala DLH Kabupaten, dia berharap binatang-binatang langka yang dilindungi tersebut tetap ada dan terpelihara. Namun kenyataannya, binatang-binatang tersebut sudah punah jauh sebelum adanya aktivitas tambang.

“Jadi kalau ada yang bilang, bahwa punahnya karena aktivitas tambang, itu tidak benar. Karena binatang tersebut, sudah tidak ada, atau punah, jauh sebelum adanya kegiatan tambang,” tegasnya.

Sementara itu, beberapa jenis burung atau binatang lain, masih tetap ada dan bahkan dari hasil penelitian rona awal (base line study), kondisi keanekaragaman jenis flora dan fauna di Pulau Wawonii yang teridentifikasi bervariasi mulai dari kategori rendah dan sedang.

Dari hasil pemantauan rona awal yang dilakukan pada 2021 tersebut menyebutkan, beberapa jenis kupu-kupu dan capung yang dijumpai masuk dalam kategori yang tidak terancam (least concern dan not evaluated).

Kategori tersebut, sesuai dengan status konservasi yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Untuk beberapa jenis mamalia seperti kelelawar dan babi hutan, populasi mereka berada dalam kategori hampir terancam.

Namun, perlu dicatat bahwa jenis burung dilindungi seperti Elang Ular Sulawesi dan Serindit Sulawesi masih dalam status stabil dan tidak terancam kepunahan menurut penilaian International Union for Conservation of Nature (IUCN).

1
1