Kendari, Radarsultra.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) menggelar dialog pencegahan terorisme, dimana dalam dialog tersebut melibatkan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) melalui forum koordinasi pencegahan terorisme di Sultra dengan menghadirkan Ali Fauzi Manzi seorang mantan teroris yang juga adik kandung Amrozi dan Ali Imron ini, menjadi salah satu pemateri.
Dialog yang digelar di gedung rektorat Universitas Halu Oleo. Ali Fauzi Manzi mantan teroris Jamaah Islamiyah tersebut membawakan materi tentang kisahnya sebelum menjadi mantan teroris.
“Saya dulu pernah belajar merakit bom hingga ke Mindanau, pulau terbesar kedua yang ada di Philipina. Di sana saya diajari berbagai teknik cara membuat bom dan operasi perang. Jadi saya ini dulu, ahli dalam merakit bom,” ungkap mantan anggota teroris dari kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF) Ali Fauzi dalam dialognya, Kamis (1/6/2017).
Ia menambahkan, setelah lulus dari Philipina, Ali kembali ke Indonesia dan Malaysia. Disanalah perannya sebagai pelaku teror dimulai. Dia juga ditunjuk sebagai Kepala Instruktur (Field Engineering) Perakitan Bom Jama’ah Islamiyah Wakalah di Jawa Timur.
“Jadi dulu kerjaan saya hanya bolak balik Poso, Ambon sambil membawa anggota dan mensuplay senjata” tambahnya.
Ali Fauzi mengaku kini hidupnya berubah drastis setelah tertangkap pada tahun 2004 oleh pihak keamanan PNP (Polis Nasional Philipina) dan menjalani kehidupan di penjara. Kemudian dirinya dideportasi ke Indonesia dan mendapat pembinaan serta perawatan dari Satgas Bom Mabes Polri karena sakit.
“Setelah tertangkap pada tahun 2004 lalu disitulah saya mulai tersadar, dan alhamdulillah mungkin ini hidayah dari Allah SWT, saya sekarang lebih senang jadi pengamat bom dari pada jadi perakit bom,” tuturnya sambil tersenyum.

Ali Fauzi menyebutkan kelompok teroris yang sekarang berada di Indonesia terbagi atas dua kelompok, yakni Jama’ah Islamiyah yang merupakan kelompok lama dan kelompok baru yakni jaringan ISIS.(C)






