1

Bejat !!! Bocah SD Kelas 1 Jadi Korban Pencabulan Kuli Bangunan

1

Kendari, Radarsultra.co.id – Entah apa yang ada di dalam pikiran Hendrik (22) seorang pekerja bangunan asal Kelurahan Onewila Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi tenggara (Sultra) hingga tega mencabuli SA (7) seorang bocah perempuan yang masih duduk di bangku kelas 1 (Satu) disalah satu Sekolah Dasar (SD) di kota Kendari yang merupakan anak sulung dari sahabatnya sendiri AR (32).

Saat disambangi di Kediamannya, ayah korban AR menceritakan kronologi kejadian memilukan tersebut kepada awak Radarsultra.co.id Dikatakannya, pelaku pencabulan tersebut adalah anak buahnya sendiri yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri yang dikenalnya sejak kurang lebih 2 (Dua) tahun yang lalu.

1

“Pelaku ini bekerja dengan saya, dia anggota buruh bangunan saya, saya baku kawan sama dia sudah dua tahunan lebih dan dia juga sudah saya anggap seperti anak saya sendiri,” ungkap AR, Minggu (19/11/2017).

Lebih lanjut, AR mengatakan, aksi cabul Hendrik terungkap setelah korban SA merintih kesakitan pada saat sedang buang air kecil, mendengar rintihan sang anak kemudian ibu korban sontak menghampiri sang anak dan dilihatnya kemaluan korban telah mengeluarkan darah.

“Kami sama sekali tidak ada firasat apa-apa, kejadian ini ketahuan awalnya waktu dia (Korban) keluar buang air kecil, waktu itu dia sudah berteriak kesakitan, terus istri saya langsung datang menghampiri anak saya, waktu diangkatnya, anak saya ternyata kelaminnya sudah mengeluarkan darah menetes dari kemaluannya,” kata AR.

BACA JUGA :  Kunjungan kerja ke Polda Sultra, Komisi III DPR RI Apresiasi Pengamanan Pilkada di Sultra

Merasa cemas dengan keanehan yang dialami anaknya, AR sekeluarga kemudian menyampaikan peristiwa tersebut kepada tetangga untuk meminta solusi dari keanehan tersebut.

“Selanjutnya kami menyampaikan kejadian ini kepada tetangga dengan harapan untuk mendapatkan solusi karena ini bukan penyakit biasa karena waktu ditanya anak ini katanya tidak ada rasa sakit di perutnya, hanya di kemaluannya saja yang sakit,” lanjutnya.

Lebih jauh lagi, AR menceritakan tentang kronologi pencabulan tersebut berdasarkan pengakuan si korban, dikatakannya kejadian tersebut terjadi pada hari hari Rabu tanggal 8 November 2017 lalu, dimana pasa saat itu kondisi rumah korban dalam keadaan sepi.

“Kami (Ayah Korban dan Pelaku) dari pekerjaan itu bersamaan pulang, tapi pada sore itu ada teman yang buat syukuran, jadi saya kesana dengan mamanya sekitar jam setengah 7 (Tujuh) malam, waktu itu dia (Pelaku) masih duduk-duduk di rumah, dan di rumah tinggal mereka berdua (korban dan pelaku),” tuturnya.

BACA JUGA :  Usai Diresmikan, Pemkot Gagas Perwali Pemungutan Retribusi di Kebun Raya Kendari

“Kejadiannya itu pada saat anak saya lagi mandi, anak saya bilang dia lagi mandi, terus om Hendrik masuk di WC langsung dia kunci, setelah itu dia (Pelaku) kasi mengalir air lalu anak saya diangkat di Bak mandi, dia kasi duduk dan aksi pencabulanpun dilancarkan oleh si pelaku, setelah melakukan itu, si pelaku ini bilang kepada anak saya untuk tidak menceritakan kejadian tersebut kepada kami orang tuanya,” papar RA.

Setelah kejadian tersebut, kata RA, keesokan harinya pada hari Kamis tanggal 9 November si pelaku langsung meninggalkan rumah korban dengan alasan bahwa ada keperluan mendadak yang sangat penting dan tidak dapat ditunda lagi, pelaku pun meninggalkan rumah korban dengan tergesa-gesa.

“Saya punya feeling pas malamnya dia melakukan besoknya dia langsung pergi, dia tinggalkan semua barang barangnya disini, pokoknya pakaiannya, gajinya semua ditinggalkan,” katanya.

Saat ini peristiwa tersebut sudah dilaporkan ke pihak kepolisian dan berdasarkan pantauan Radarsultra.co.id kondisi korban saat ini masih mengalami tekanan psikologi, dan sejak kejadian tersebut korban masih enggan untuk aktif besekolah. (A)

1
1