Kendari, Radarsultra.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bersama Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka meresmikan pembangunan dan revitalisasi ratusan sekolah di Sultra, Sabtu, (10/01/26). Kegiatan tersebut dipusatkan di SMAN 7 Kendari, Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Wawombalata, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.
Dalam kesempatan itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti meresmikan pembangunan dan revitalisasi sekolah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Program tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah pusat dalam pemerataan kualitas pendidikan di daerah.
Seiring dengan agenda nasional tersebut, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka secara bersamaan meresmikan pembangunan empat unit sekolah baru serta revitalisasi 147 satuan pendidikan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sultra Tahun Anggaran 2025 dengan total nilai mencapai Rp72 miliar.
Empat sekolah baru yang diresmikan Pemerintah Provinsi Sultra masing-masing adalah SMAN 1 Pakue Utara dan SMAN 1 Ngapa di Kabupaten Kolaka Utara, SMAN 3 Kulisusu Utara di Kabupaten Buton Utara, serta SMAN 3 Tomia di Kabupaten Wakatobi.
Sementara itu, program revitalisasi menyasar 147 sekolah yang tersebar di 17 kabupaten dan kota, meliputi Kota Kendari, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe Kepulauan, Muna, Muna Barat, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Baubau, Bombana, dan Wakatobi.
Peresmian pembangunan dan revitalisasi sekolah dilakukan secara simbolis melalui penandatanganan prasasti oleh Gubernur Andi Sumangerukka.
Gubernur menegaskan bahwa pembangunan dan pembenahan sarana pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Tenggara.
Menurutnya, kehadiran empat sekolah baru diharapkan mampu memperluas akses layanan pendidikan, khususnya di wilayah yang selama ini masih mengalami keterbatasan infrastruktur dan fasilitas belajar.
Adapun revitalisasi 147 sekolah mencakup perbaikan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, sanitasi, serta berbagai fasilitas pendukung lain yang sebelumnya mengalami kerusakan atau tidak lagi layak digunakan.
“Dengan sarana yang lebih representatif, proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung lebih optimal dan memberikan kenyamanan bagi peserta didik maupun tenaga pendidik,” ujar Andi Sumangerukka.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 mendatang, kuota revitalisasi sekolah akan difokuskan untuk daerah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal), terutama wilayah kepulauan, agar pemerataan pendidikan di Sultra dapat benar-benar terwujud.
“Keinginan ini sudah saya sampaikan kepada Mendikdasmen dan ditanggapi dengan baik. Harapannya, ke depan semakin banyak sekolah yang bisa direnovasi,” pungkasnya.






