1

Imam Masjid Istiqlal Sebut Islam di Indonesia Kiblat Peradaban

1

Kendari, Radarsultra.co.id – Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasarudin Umar M.A dalam dialog pencegahan terorisme diselenggarakan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Universitas Halu Oleo (UHO) menyampaikan Islam di Negara Indonesia sebagai kiblat peradaban dunia.

Dialog tersebut bertepatan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, perekat keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dihadiri berbagai Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se Sulawesi Tenggara (Sultra). Dalam dialog, ia mengungkapkan bahwa Indonesia telah menjadi contoh negara yang mayoritas Islam, namun tetap dalam kondisi yang tetap netral dan aman.

1

“Indonesia telah menjadi kiblat bagi negara-negara lain, dimana peradaban Islam di Indonesia merupakan contoh bagi negara lain. Kiblat ibadah ada di Mekah, namun kiblat peradaban ada di Indonesia,” ungkap Nasarudin dalam dialog FKPT, Kamis (1/6/2017).

BACA JUGA :  Sekda Sultra Buka Dialog Kerukunan Umat Beragama Lintas Generasi, Soroti Peran FKUB dalam Menjaga Kondusivitas Pilkada 2024

“Diluar sana, Agama Islam dianggap sebagai agama teroris, dan agama kekerasan. Sedangkan di Indonesia adalah penduduk terbesar agama Islam, negara penghimpun masyarakat terbaik, serta wadah mempelajari gender,” tambahnya.

Menurut Nasarudin, Islam tidak bertentangan dengan konsep perekonomian modern, dan itu yang ditetapkan di Indonesia.

BACA JUGA :  Kelelahan Setelah Bertugas, Anggota KPPS di Konawe Keguguran

“Hanya ada tiga negara yang mayoritas muslim, yang masuk negara Jibril, diantaranya Indonesia, Turki, dan Saudi Arabiah. Indonesia pertumbuhan ekonominya meningkat cepat, artinya Islam tidak menjadi penghalang mengembangan ekonomi, dan demokrasi,” katanya.

Ia menghimbau untuk bersama-sama mempertahankan Islam, Pancasila, dan NKRI.

“Di Indonesia, semua dilakukan dengan musyawarah, pemilihan dilakukan dengan cara mana yang terbaik, dengan kriteria yang benar-benar terbaik. Bahkan saya pun tidak ada aturan Indonesia, yang menghalangai saya menjadi Imam besar,” tutupnya.(c)

1
1