Sepotong Cerita Negeri Kesultanan Buton
Kendari, Radarsultra.co.id – Sejarah Kesultanan Buton tak bisa dipisahkan dengan kabupaten yang kaya akan aspal ini. Sebagai salah satu kabupaten di jazirah Sulawesi Tenggara, Kabupaten Buton sejak terbentuknya tidak terlepas dari histori kejayaan Kerajaan dan Kesultanan Buton yang diakui eksistensinya sebagai salah satu kerajaaan dan kesultanan yang demokratis dan kaya akan aneka ragam budaya.
Pada tahun 1950-an bersama seluruh kesultanan di Indonesia bagian Timur menyatakan bergabung dengan NKRI. Kemudian pada awal tahun 1960-an Provinsi Sulawesi Tenggara berpisah dari induknya Sulawesi Selatan.
Beralihnya sistem kesultanan dan masuk ke dalam sistem pemerintahan NKRI, maka Buton bersama jazirah tenggara Sulawesi dikukuhkan menjadi Kabupaten dari Sulawesi Tenggara yang ber-ibukota di Baubau sebagai bekas ibukota Kesultanan Buton.
Kabupaten Buton memiliki 94 desa dan kelurahan yang tersebar di Tujuh kecamatan yakni, Wabula, Pasarwajo, Wiolowa, Siotapina, Lasalimu Selatan, Lasalimu dan Kapontori. Buton memiliki cadangan aspal terbesar di dunia. Hanya ada dua negara yang menghasilkan aspal alam, yaitu Trinidad dan Indonesia di Buton. Aspal Buton itu tersebar di 43 hektar yang dikelola tidak akan habis selama 300 tahun.
Historis Festival Budaya Tua Buton
Sebagai daerah eks kerajaan dan kesultanan, berbagai tradisi dan budaya tumbuh terpelihara dalam pola perilaku kehidupan masyarakat di Kabupaten Buton. Seiring perkembangannya, pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Buton menginisiasi untuk menyelenggarakan tradisi dan budaya dalam bentuk event Festival Budaya Tua Buton. Festival ini mulai diselenggarakan sejak tahun 2013 dan berturut-turut setiap tahun hingga kelima kalinya pada 2017.
Penyelenggaraan Festival Budaya Tua Buton adalah refleksi kegiatan budaya yang menjadi panutan, terintegrasi baik dalam kehidupan individu maupun kemasyarakatan dan telah diwariskan secara turun temurun hingga kini.
Festival Budaya Tua Buton Kelima
Selama empat tahun berturut-turut digelar secara konsisten oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buton. Bahkan Festival Budaya Tua Buton mulai tahun 2016, resmi masuk kalender Event Pariwisata Nasional.
Festival Budaya Tua Buton 2016 menampilkan kegiatan budaya diantaranya :
Festival Tenun
Bagi orang Buton, kain tenun mampu menjadi praktek sosial bagi masyarakat Buton karena dua hal. Pertama, tenun Buton merupakan pengejawatahan dari penghayatan orang-orang Buton dalam memahami lingkungan alamnya. Terlihat dari corak motif yang terdapat pada tenun Buton.

Corak kain Buton menggunakan nama flora dan fauna yang ada dalam kehidupan masyarakat Buton dengan mengandung maksud sebagai pesan moral untuk pelestarian dan menjaga keseimbangan alam.
Kedua, tenun Buton sebagai identitas diri dan sosial. Dengan melihat motif pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton, dapat diketahui apakah dia telah menikah atau belum. Melalui pakaian yang dikenakan, juga dapat diketahui seorang perempuan dari golongan awam atau bangsawan. Dengan melihat tenun yang dipakai orang Buton, kita dapat mengetahui kedudukan seseorang dalam masyarakat Buton.Tenun Buton merupakan simbol jati diri orang Buton yang harus tetap lestari.

Untuk itulah Pemerintah Kabupaten Buton, pada Festival Budaya Tua Buton kelima tahun 2017 menampilkan Festival Tenun Tradisional Buton dengan menghadirkan 100 penenun asli dari berbagai pelosok Buton.
Festival Dole-dole (Imunisasi)
Festival Dole-dole adalah tradisi tua yang diwariskan secara turun temurun, yakni imunisasi secara alamiah bagi masyarakat Buton.

Prosesi Pedole-dole dilaksanakan untuk anak yang berumur dibawah 5 tahun. Pelaksanaan Pedole-dole ini biasanya dilengkapi dengan pemberian nama bagi anak. Tradisi Pedole-dole ini berawal dari masa anak seorang Raja Buton bernama Betoambari sakit-sakitan. Atas petunjuk melalui meditasinya diperoleh jawaban bahwa harus dilaksanakan Pedole-dole terhadap anak tersebut. Setelah dilaksanakan prosesi Pedole-dole, Betoambari sembuh dan tumbuh sehat seperti anak lainnya. Sehingga Raja menginstruksikan agar semua masyarakat di wilayah Buton melaksanakan tradisi itu terhadap anak-anaknya.
Dalam rangka menumbuh kembangkan tradisi Pedole-dole, Pemerintah Kabupaten Buton sejak tahun 2013 telah mencanangkan penyelenggaraan Pedole-dole secara massal sebagai rangkaian pelaksanaan Festival Budaya Tua. Dan pada tahun 2017 ini penyelenggaraan Festival Dole-dole diikuti sebanyak 200 anak.
Festival Posuo (Pingitan)
Festival Posuo (Pingitan) adalah tradisi pingitan bagi gadis remaja masyarakat Buton sebelum memasuki usia dewasa, dimana pada masa lampau sejak terbentuknya struktur Pemerintah Kerajaan/Kesultanan di Buton, dilaksanakan selama 40 hari, setelah itu menjadi 7 hari, dan saat ini dilaksanakan hanya 4 hari lamanya. Secara psikis bertujuan untuk membentuk mental sebagai seorang gadis dewasa berdasarkan ketentuan adat istiadat dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
Selain pembetukan psikis juga pembentukan fisik, yaitu diajarkan untuk merawat diri, dan berprilaku hidup sehat sehingga tetap tumbuh sebagai seorang gadis yang sehat dan cantik secara alami.

Posuo (Pingitan) bagi masyarakat Buton wajib hukumnya dalam ketentuan adat istiadat, sebelum melangsungkan pernikahan. Karena apabila seorang gadis akan menikah, sudah dapat dipastikan dipingit lebih awal baru dilangsungkan pernikahan. Sehingga setelah memasuki pernikahan akan mampu menjadi calon istri yang dapat menaklukan hati suami, sehingga diharapkanakan terbentuk kehidupan keluarga yang sakinah.
Ritual Tandaki (sunatan tradisi Buton)
Tandaki yaitu tradisi yang berkaitan sunatan bagi anak laki-laki yang telah memasuki masa aqil balik. Melambangkan bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiban untuk melaksanakan segala kebaikan dan menghindari yang terlarang.

Kelengkapan pakaiaan Tandaki (Sunatan tradisi Buton) terdiri dari Tandaki (mahkota) yang dibentuk dan ditata sedemikian rupa dengan berbagai hiasan dan aneka rupa sehingga tampak sebagai lambang kebesaran pemakainya, keagungan dan kedamaian yang dijunjung tinggi secara ikhlas. Ikat pinggang diukir dengan kalimat tauhid dan sebilah keris sebagai lambang keberanian. Pada tahun 2017 ini Festival Tandaki diikuti 200 anak.
Festival Pekande-kandea
Festival Pekande-kandea adalah tradisi makan bersama masyarakat Buton. Pada zaman dahulu dilaksanakan untuk menyambut para pejuang kembali dari medan pertempuran. Dalam Bahasa Buton sering juga disebut Bongkaana Tao (merupakan acara pembukaan tahun sebagai doa kesyukuran terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen/rezki yang diperoleh selama satu tahun). Juga dapat dilaksanakan setelah melaksanakan hajatan (pesta syukuran) sesuai dengan ketentuan adat istiadat, misalnya melaksanakan Kawia (pernikahan), Posipo (peringatan 7 bulan kehamilan), Tandaki (bagi anak laki-laki yang memasuki akil baliq), Posusu (bagi anak perempuan yang memasuki usia remaja), dan Posuo (remaja putri yang beranjak dewasa). Bahkan pada acara-acara peringatan meninggalnya seseorang pun kadang, diakhiri dengan Pekande-kandea walaupun dalam skala kecil.

Pekande-kandea yang berarti makan bersama dengan duduk bersila berhadap-hadapan antara penjaga talang dengan pengunjung/tamu, yang diantarai dengan talang atau dulang (tempat makanan yang berkaki) yang diisi dengan berbagai macam makanan tradisional seperti : Lapa-lapa, Nasi bambu, Nasi ketan, Nasi merah (padi ladang), ikan (bakar dan berkuah), masakan ayam (baik yang dibakar, goreng maupun berkuah), Cucur, Epu-epu, Onde-onde, Baruasa, Bolu, dan lain-lain.
Tata cara pelaksanaan adalah talang dijaga oleh gadis yang berpakaian adat, menyuap tamu yang hadir dan sebagai balasan tamu akan barter (disawer) untuk memberi sesuatu kepada gadis tersebut. Pada tahun 2017 ini Festival Pekande-kandea menampilkan 2.000 talang/dulang.
Dalam Festival Budaya Tua Buton 2017 dimeriahkan dengan penampilan kolaborasi tiga tarian kolosal dengan 10.000 penari, yaitu tari Waindorigi, tari Popana dan Tari Kaleko.
Tari Waindorigi
Tari Waindorigi berasal dari Takimpo Kecamatan Pasarwajo. Tarian ini diilhami cerita Masyarakat Takimpo sebelum adanya Kerajaan Buton masa silam, di Liwu Takimpo Lipuogena oleh tokoh-tokoh adat mengamanatkan La Manuncama untuk menjadi duta (utusan) adat menuju Wabula. Dalam kesepakatan tokoh Sara Takimpo, La Manuncama dalam perjalanan menuju Wabula didampingi oleh seorang wanita berparas cantik yang bernama Wa Indorigi. Pada hari yang ditentukan berangkatlah mereka menggunakan perahu yang bernama Wasilomata dengan dikawal 20 orang perempuan dan 20 orang laki-laki.
Di saat pelayarannya, rombongan La Manuncama tersebut bernyanyi dan menari dengan gerakan-gerakan dasar di atas perahu yang pada dasarnya memberikan semangat dan pemujaan kepada wanita yang bernama Wa Indorigi. Di pertengahan jalan, rombongan tersebut dihempas gelombang besar yang hampir menenggelamkan mereka. Untungnya di saat itu juga La Manuncama memanjatkan doa kepada yang maha kuasa sehingga tidak terjadi malapetaka dan Rombongan La Manuncama yang didampingi Wa Indorigi tiba dengan selamat di tempat tujuan.
Tari Popana

Tarian ini berasal dari Masyarakat Todanga, Kecamatan Kapontori. Dilakonkan 12 penari yang terinspirasi dari penanggalan Islam yang terdiri 12 bulan. Tarian ini dimainkan masyarakat Todanga sejak awal masuknya Islam di Kerajaan Buton. Penari juga dilengkapi dengan panah yang terbuat dari bambu yang dilengkapi dengan aksesoris bulu ayam. Intisari dari tarian ini tentang ajaran kekuatan antara si Pincang dan si Mati. Dalam adu kekuatan itu si Pincang dapat mengalahkan si Mati. Tari tersebut mengandung makna kebenaran selalu menang meski yang memperjuangkannya secara fisik tidaklah sempurna.
Tari Kaleko
Tarian ini diinspirasi dari permainan yang dilakonkan kaum muda mudi masyarakat Lambusango, Kecamatan Kapontori.
Permainan ini menggunakan batok atau tempurung kelapa yang isinya terdiri dari Po Boku yang mengetuk-ketukan dua buah batok kelapa yang menimbulkan bunyi dan irama alam membuat perasaan dan pikiran menjadi senang dan bahagia. Tari Kaleko mengungkapkan nilai kemenangan dan kebahagiaan yang merupakan impian bagi semua orang. Semua itu dicapai dengan pikiran dan tindakan yang mengedepankan kebenaran. Dalam Festival Budaya Tua Buton 2017 ini kalaborasi Tari Waindorigi, Tari Popana dan Tari Kaleko ditampilkan secara kolosal oleh 10.000 penari.
Penyelenggaraan Buton Expo dan Malam Hiburan Rakyat
Salah satu rangkaian Festival Budaya Tua Buton adalah Pameran Buton Expo, yang merupakan sarana informasi dan promosi serta evaluasi pelaksanaan pembangunan yang telah dicapai khususnya masa kepemimpinan pemerintah daerah setiap tahun. Juga diselenggarakan malam hiburan rakyat berupa lomba-lomba kesenian daerah dan penampilan artis ibukota dan lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton, La Ode Abdul Zainuddin Napa, menambahkan, pada festival kali ini pihaknya mengusung tema “Peradaban Buton, Pesonakan Indonesia”. Tercetusnya tema ini karena dianggap bahwa keindahan peradaban Buton menambah pesona Indonesia menjadi salah satu wisata mancanegara, karena Buton memiliki keunikan tersendiri.(adv)






