Kendari, Radarsultra.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) menilai pengembangan komoditi kedelai di Bumi Anoa belum menunjukkan hasil maksimal.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanak Provinsi Sultra Suryati Raeba mengatakan, belum maksimalnya pengembangan kedelai dapat dilihat dari data produksi tahun ke tahun terjadi penurunan yang cukup signifikan.
“Pada tahun 2016 produksi kedelei mencapai 16.136 ton dan menurun 74.87 persen pada tahun 2017 menjadi 4.055 ton,” kata Suryati, Selasa (13/11/2018).
Selain itu, menurut Suryati, pengembangan komoditi kedelai juga ribet perawatannya (rewel) dibanding komoditi lain sepeti padi dan jagung, sehingga petani harus benar-benar mampu menanam dan merawat agar produksinya maksimal.
“Banyak yang beranggapan kalau kedelainya besar-besar itu bagus, padahal yang bagusnya itu kalau kecil-kecil bijinya,” kata Suryati.
Ia juga menambahkan petani yang diberikan bantuan bibit kedelai dan pupuk pun belum dapat memaksimalkan produksinya, apalgi petani yang tidak mendapatkan bantuan sama sekali. Alasanya, karena perawatan dari kedelai rewel atau tidak mudah.
Selain itu, permasalahan lain impor kedelai masih dilakukan oleh pemerintah untuk bahan baku utama tempe, akhirnya kedelai dalam negeri tidak laku di pasaran lokal atau dalam negeri.
“Ya, kondisi kedelai di Sultra ini antara hidup dan mati,” ujarnya.
Laporan: Robiah Adawiah






