Kendari, Radarsultra.co – Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) menjalankan program Desa Binaan di Desa Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, dengan fokus memperkuat usaha pengolahan ikan asap masyarakat.
Program tersebut mengusung pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui standardisasi mutu ikan asap, penerapan teknologi tepat guna dan penguatan manajemen Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 1 atau No Poverty.
Program Desa Binaan tersebut berlangsung April hingga Juli 2026. Salah satu kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Balai Desa Lalonggasumeeto pada 24 Juli 2026 dengan melibatkan pelaku usaha pengolahan ikan asap, pengurus BUMDes, aparat desa dan masyarakat setempat.
Ketua tim pelaksana Desa Binaan FEB UHO, Safaruddin, SE., M.S.A, Ak, CA, mengatakan program tersebut disusun untuk mengoptimalkan potensi ikan asap sebagai salah satu sumber ekonomi masyarakat.
“Pemberdayaan ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk ikan asap melalui penerapan standar mutu, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta penguatan manajemen BUMDes,” kata Safaruddin.
Desa Lalonggasumeeto memiliki identitas kuat sebagai salah satu sentra kegiatan pengasapan ikan di Kabupaten Konawe. Produk ikan asap dari wilayah tersebut telah dikenal masyarakat dan memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan usahanya. Proses pengasapan umumnya masih menggunakan metode tradisional dengan tungku sederhana sehingga kualitas produk belum sepenuhnya seragam.

Keterbatasan penyimpanan juga menjadi persoalan. Selain itu, pengetahuan pelaku usaha mengenai pencatatan arus kas, biaya produksi, keuntungan dan pengelolaan usaha masih perlu diperkuat. Dari sisi pemasaran, produk juga masih banyak dipasarkan di lingkungan sekitar dan pasar lokal.
Dalam program Desa Binaan tersebut, tim dosen FEB UHO memberikan pembekalan mengenai standardisasi mutu, sanitasi, pengolahan, pengemasan dan pemasaran ikan asap. Materi juga mencakup pengelolaan keuangan serta pencatatan usaha.
Dukungan teknologi tepat guna diberikan melalui freezer yang diharapkan dapat membantu mempertahankan kualitas produk dan memperpanjang masa simpan ikan asap.
“Teknologi tepat guna diharapkan dapat membantu masyarakat menjaga kualitas produk, memperpanjang masa simpan, mengurangi kerusakan, dan memberikan fleksibilitas dalam menentukan waktu pemasaran,” ujarnya.
Penguatan BUMDes menjadi bagian lain dari program Desa Binaan tersebut. BUMDes diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung pengelolaan, pemasaran dan pengembangan usaha masyarakat.
“BUMDes diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan usaha masyarakat, baik dalam pengelolaan, pemasaran maupun pengembangan kemitraan sehingga potensi ikan asap dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi desa,” katanya.
Kegiatan sosialisasi diikuti 24 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan mayoritas peserta memberikan penilaian positif terhadap materi yang disampaikan dan menilai materi tersebut relevan dengan kebutuhan pengembangan usaha ikan asap.

Tim FEB UHO juga mendorong keberlanjutan Desa Binaan melalui pendampingan, monitoring dan evaluasi secara berkala. Penerapan standar produksi, sanitasi, pengemasan dan pemasaran diharapkan dapat terus ditingkatkan.
Pengelolaan freezer juga perlu dilakukan secara optimal. BUMDes dan pelaku usaha didorong menerapkan pencatatan produksi, penyimpanan, pemasaran dan keuangan secara sederhana namun terstruktur.
Program Desa Binaan ini dilaksanakan oleh Safaruddin bersama tujuh dosen FEB UHO, yakni Prof. Dr. H. Ishak Awaluddin, SE, M.Si, Ak, CA, Asean CPA, ACPA, CTA, CPA; Dr. Muntu Abdullah, SE, M.Si, Ak, CA, ACPA; Fitriaman, SE., MSA, Ak, QIA, CSRS, CSRA, CRA, CIISA, QGIA; Andi Muhammad Fuad Ramadhan Basru, S.E., M.Acc., Ak, CA; Si Made Ngurah Purnaman, S.Ak, M.Ak; Muhammad Zaikin, S.Ak., M.Ak; serta La Ode Muhammad Saum Fasihu, S.Ak., M.Ak.
Tim tersebut turut melibatkan tiga mahasiswa Akuntansi UHO, yakni Muh. Andri Alfiansyah Putra Arwan, Tasya Aulia Wa Ode, dan Amelia Cahya Kirani Pondaag.
Ke depan, program Desa Binaan diharapkan dapat dilanjutkan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, perguruan tinggi, instansi terkait dan sektor swasta. Kerja sama tersebut dapat mendukung pengembangan teknologi, peningkatan mutu, sertifikasi, diversifikasi produk dan perluasan akses pasar.
“Pada akhirnya, peningkatan kualitas produk, nilai tambah hasil perikanan, dan penguatan kelembagaan ekonomi desa diharapkan dapat meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat,” tutur Safaruddin.
Melalui program Desa Binaan tersebut, potensi ikan asap Lalonggasumeeto diharapkan semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap penguatan ekonomi masyarakat serta pencapaian SDGs Tujuan 1 (No Poverty).






