Kendari, Radarsultra.co – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menilai bahwa daerah ini masih menghadapi tantangan besar dalam memperkuat struktur ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Doni Septadijaya, menjelaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Sultra pada 2024 mencapai 5,40 persen, daerah ini masih tergolong dalam kategori Lower Middle Income atau berpenghasilan menengah ke bawah.
“Pertumbuhan ekonomi Sultra sudah cukup stabil, namun belum diikuti dengan peningkatan nilai tambah yang signifikan, terutama di sektor-sektor produktif,” ujarnya dalam Media Gathering BI Sultra di Kendari, Rabu (12/2/2025).
Menurut Doni, struktur ekonomi Sultra masih didominasi sektor pertanian dengan kontribusi 23,48 persen, diikuti pertambangan sebesar 21,13 persen, industri pengolahan 9,40 persen, dan sektor lainnya 45,99 persen. Meskipun pertanian menjadi penopang utama, nilai nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor ini masih relatif rendah, hanya sekitar Rp26 triliun pada 2024.
“Angka tersebut masih jauh di bawah provinsi lain seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Kita perlu memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah agar Sultra lebih kompetitif,” kata Doni.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk mencapai target PDB per kapita nasional sebesar US$30.000 pada 2045, Sultra perlu mempercepat transformasi ekonomi melalui penguatan sektor industri pengolahan non-tambang, peningkatan produktivitas pertanian, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Visi Indonesia Emas bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi tentang bagaimana seluruh daerah, termasuk Sultra, mampu bertransformasi menjadi ekonomi yang bernilai tinggi dan berdaya saing,” tegasnya.
Doni menambahkan, sinergi lintas sektor menjadi faktor kunci untuk mewujudkan transformasi ekonomi tersebut. Pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan lembaga keuangan perlu berperan aktif dalam memperkuat ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Dengan kolaborasi yang kuat, Sultra berpeluang menjadi motor pertumbuhan kawasan timur Indonesia, terutama di sektor pertanian dan industri berbasis sumber daya lokal,” pungkasnya.






