1

Srikandi Tangguh Pengumpul PAD

Radarsultra.co.id
1

TOKOH INSPIRASI PERTANIAN BAGIAN-1

Ir. Asnawati, MSP

1

Kendari, Radarsultra.co.id – Tak banyak wanita sukses di tengah tekanan pekerjaan yang berat. Salah satu sosok yang mampu eksis itu adalah Ir. Asnawati, MSP. Wanita kelahiran Buton 23 November 1961 ini memegang jabatan penting, yakni Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sebelum menjadi Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra, ia menjabat Kepala UPTD Balai Pengembangan Benih Tanaman Pangan (BPBTP) sejak tahun 2010. “Saya dilantik menjadi Sekretaris Dinas pada 8 Januari 2018. Jadi delapan tahun saya menjabat sebagai Kepala UPTD BPBTP,” urainya.

Menurut wanita 57 tahun ini, tugas BPBTP adalah memproduksi benih sumber, dimana benih sumber ini akan menjadi benih-benih yang akan dimanfaatkan bagi penangkar ataupun petani langsung. Karena dengan menggunakan benih unggul itu akan meningkatkan produksi.

Keberadaan Balai Pengembangan Benih Tanaman Pangan kala itu dipandang sebelah mata. Pasalnya, orang belum melihat apa kerja nyatanya bagi daerah dan masyarakat.

Tetapi tahun 2016, tim Balai Pengembangan Benih menjawab keraguan banyak pihak dengan menjadi penghasil PAD terbanyak. Ditargetkan Rp 1 miliar, tetapi berhasil melampaui yakni Rp 1,3 miliar. Ini capaian luar biasa untuk pertama kalinya sejak UPTD BPBTP berdiri.

“Semua capaian kita itu berkat Pak Kadis yang sangat memperhatikan sarana dan prasarana kami. Begitupun lima UPTD lainnya di Distanak, semua diperhatikan dengan baik,” ujar Asnawati.

BACA JUGA :  2019 Distanak Sultra Fokus Peningkatan Kinerja Pegawai

Menurut Asnawati, sebelum ia memegang tampuk pimpinan Kepala UPTD BPBTP, capaian PAD hanya berkisar Rp 100-200 juta saja. Dengan diberikan target tinggi Rp 1 miliar maka pihaknya terpacu untuk mencapai sasaran, dan itu akhirnya berhasil.

Tanpa terobosan khusus, namun berhasil meraih target. Rahasianya, menurut wanita asal Kaledupa ini, karena adanya motivasi yang kuat dari Kepala Distanak Sultra.

“Pimpinan kami memotivasi semua tim bekerja, sehingga semua berjalan dengan sistematis. “Beliau itu apa yang dibutuhkan suatu lembaga, beliau mengerti. Semua dibagi tugas dengan baik. Masa kita menghasilkan benih, tidak ada yang bisa kembali ke negara atau daerah, Kami selalu dimotivasi untuk kerja, kerja, dan kerja,” katanya.

Arahan kepala dinas bagi Asnawati dipandang sebagai bentuk motivasi dan pembinaan agar betul-betul bekerja sesuai dengan tupoksi. Meski sebagian orang menganggap agak keras.

Sejak tahun 2010 hingga kini tidak ada penambahan personil di UPTD BPBTP. Hanya saja terjadi perubahan management. Artinya kalau dulu biasa-biasa saja kerjanya. Namun, setelah dibimbing untuk memiliki etos kerja, maka terjadi peningkatan.

“Atas saran pimpinan, managemen dibenahi. Penanggung jawab di lapangan dirubah, petugas yang sudah tua diganti dengan yang muda-muda,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pemkot Kendari dan Bank Indonesia Luncurkan 115 Kios Pangan Digital untuk Stabilitas Harga dan Ketahanan Pangan

Pada saat itu, tim Balai Benih hanya 30 orang, yang tersebar di enam daerah, yakni di Balai Benih Wakalambe, Bombana, Wonco, Balai Benih Induk di Wawotobi, Tinondo dan ada juga Balai Benih khusus palawija di Muna. Sebagian sebagai Balai Benih utama, sebagian Balai Benih pembantu.

“Kita monitor terus dari jarak jauh. Kami harus fight dengan tantangan itu, dengan lokasi yang tersebar harus mampu kita kelola dan pantau. Kita harus keliling, mobile, tidak bisa menetap. Tetapi karena paling luas ada di Wawotobi, jadi lebih sering di Wawotobi. Kalau lagi di Wawaotobi itu kan luar daerah yah, antar kabupaten, tapi bisa pulang balik Kendari, begitupun juga kalau ke Bombana,” kata Asnawati.

Menurut Asnawati, kecuali kunjungan di kepulauan, seperti Kabupaten Muna dan lainnya, tidak bisa bolak balik sehari. Jadi semua daerah harus dikunjungi, tidak bisa hanya lewat telepon, agar mereka merasa diperhatikan.

“Kini 2018 menjabat sebagai Sekdis, saya akui ini dinas besar, semakin banyak tanggung jawab, semakin sibuk mengurus administrasi, harus kita kontrol, dalam artian tidak bisa kita pulang istirahat di rumah karena terkadang ada pekerjaan mendesak, semua harus direspon cepat,” tandasnya. (Bersambung)

1
1