Kendari, Radarsultra.co.id – Sosiodrama dengan lakon perjuangan Halu Oleo mengusir penjajah di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi penutup upacara kemerdekaan RI ke 72 di Sultra. Drama yang melibatkan puluhan TNI itu, mengisahkan perjuangan Haluoleo sebagai salah satu tokoh pejuang di Sultra.
Drama itu digelar di lokasi Lapangan Upacara Kantor Gubernur Sultra di Kendari, Kamis (17/8/2017). Pelaksana tugas Gubernur Sultra Saleh Lasata sebagai inspektur upacara menyaksikan saksama jalannya sosiodrama itu.
“Dalam ceritanya, masyarakat Sultra di kala itu tidak hanya diam saat ditindas oleh penjajah, dimonopoli ekonominya, dan sebagainya. Tetapi ikut berjuang keras sehingga kedaulatan ini berada di tangan kita,” kata Komandan Kodim (Dandim) Komando Distrik Militer 1417 Kendari, Eko Hermawan Yuniarso, yang juga koordinator Sosiodrama.
Semasa hidupnya, Haluoleo dikenal sebagai ksatria yang berani, gigih dan tak kenal menyerah membela tanah tumpah darahnya. Haluoleo pernah memimpin perlawanan terhadap perampok laut pada masa itu sering mengganggu di sekitar perairan Flores-Selayar. Konon ia bertempur dengan kelompok bajak laut Tobelo di laut lepas hingga terdampar sampai di Pulau Marege, Australia. Bajak laut Tobelo sebagian terdiri dari orang-orang Portugis dan kerap menggangu aktivitas pelayaran pengangkutan rempah-rempah di wilayah timur nusantara baik di Sulawesi Tenggara maupun Sulawesi Selatan.
“Sosiodrama ini, arahan Komandan Resor Militer (Dandrem) 143 Halu Oleo (HO) Kolonel Inf Andi Perdana Kahar SH dalam rangka memunculkan nuansa perjuangan masa lalu di Sultra. Sehingga masyarakat bisa mengingat serta ikut merasakan tentang perjuangan panjang dan berat itu,” ungkap Eko.
Lanjutnya, pada masa itu Sultra juga mempunyai tokoh-tokoh pejuang saat dijajah oleh negara asing. Dan Sultra mengenal Haluoleo. Serta pada hari ini, Sosiodrama menceritakan tentang tokoh Halu Oleo untuk mewakili tokoh-tokoh yang ada di Sultra.
Halu Oleo saat ini memang belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional karena rekam jejaknya sebagai pejuang nusantara masih terus digali. Namun, bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, Halu Oleo menjadi tokoh pemersatu yang menginspirasi. Halu Oleo pahlawan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, dalam persiapan sosiodrama ini, pihaknya hanya melakukan lima kali latihan dan gladi.
“Selama dua hari, namun dilakukan dengan teguh, sehingga tidak susah dan tergolong cepat. Sebab mereka disiplin. Dan Sosiodrama ditampilkan selama 15 menit lebih,” tutur Pelatih sosiodrama Vida Hanafi.
Untuk diketahui, Vida Hanafi sebagai pelatih sosiodrama dari Sanggar Campudona Jaya. Sosiodrama tersebut melibatkan 100 anggota TNI Kodim 1417 Kendari, Korem 143 HO dan 25 orang istri TNI beserta anak-anak prajurit dan juga masyarakat.(c)






