Kendari, Radarsultra.co – Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andap Budhi Revianto, menjadikan pengendalian inflasi sebagai isu utama di tengah status tanggap darurat badai El Nino.
Dalam serangkaian rapat koordinasi, Pj Gubernur intens berkoordinasi dan mengevaluasi langkah-langkah pelaksanaan bersama instansi teknis dan pihak terkait.
Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, Asrun Lio, menyatakan bahwa isu inflasi di Sultra telah menjadi perbincangan hangat.
Pemerintah secara aktif menyampaikan informasi melalui berbagai media, termasuk media sosial, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pengendalian inflasi.
“Kenaikan inflasi ini dirasakan melalui kenaikan harga komoditas dan kelangkaan, dan pemerintah mengungkapkan hal ini untuk mengajak kerjasama dan kepedulian bersama,” kata Asrun Lio dalam rilis PPID Utama Sultra, pada Minggu, (29/10/2023).
Berdasarkan hasil rapat koordinasi, Asrun Lio menjelaskan bahwa inflasi di Sultra terkait dengan cuaca ekstrem, terutama musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan status tanggap darurat badai El Nino.
Meskipun inflasi saat ini berada pada tingkat 3,46 persen (yoy), lebih rendah dari tingkat inflasi Desember 2022 sebesar 7,39 persen (yoy).
Dalam rapat tersebut, Pj Gubernur Sultra menyoroti komoditas penyumbang inflasi, seperti beras, cabai merah, bawang merah, dan ikan.
Kendala produksi es karena pemadaman bergilir juga mempengaruhi ketersediaan ikan.
Asrun Lio juga mengungkapkan permasalahan kenaikan harga elpiji di Sultra, terkait terlambatnya perpanjangan perizinan SPBE Kolaka dan SPBE Konawe yang mengalami kebakaran, mempengaruhi pasokan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kg di wilayah tersebut.
Setelah rapat koordinasi pada 25-29 Oktober 2023, terlihat progres signifikan dalam menangani masalah kenaikan inflasi di Sultra.
Khususnya, untuk cabai merah dan bawang merah yang sudah terkendali melalui hasil produksi dari SMA/SMK di Sultra.
Menanggapi kelangkaan gas elpiji 3 kg, Pemprov Sultra terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk menjaga pasokan, sementara OPD dan Aparat Penegak Hukum melakukan pemantauan.
Kabar gembira juga, PT Pertamina (persero) telah menyampaikan bahwa kendala distribusi yang menyebabkan kelangkaan elpiji 3 kg telah teratasi, sehingga diharapkan beberapa hari kedepan, distribusi elpiji 3 kg di Kota Kendari dan beberapa daerah kabupaten lainnya, telah kembali normal. Untuk itu, diharapkan kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik dengan kondisi saat ini,” ucapnya.
Meskipun Sultra menempati peringkat kedua inflasi tertinggi di Indonesia, Asrun menegaskan bahwa statusnya masih moderat atau terkendali.
Positifnya, posisi inflasi ini mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang mencapai 7,39 persen.
“Secara angka inflasi nasional, pengendalian inflasi di Sultra bisa teratasi,” ucapnya.* (ADV)






