TOKOH INSPIRASI PERTANIAN BAGIAN-3 (Ir. H. Muhammad Nasir, MS)
Muhammad Nasir melewati pendidikan dasar di SDN Rahabangga tahun 1970, menamatkan SMPN Wawotobi tahun 1973, kemudian selesai pada SMAN Wawotobi tahun 1976. Pendidikan tingga (S1) ia tempuh di Fakultas Pertanian Jurusan Proteksi Tanaman, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang tahun 1983. Jenjang magister (S2) ia selesaikan pada Fakultas Pasca Sarjana, Pertanian Ilmu Hama Tumbuhan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tahun 1991.
Pendidikan adalah prioritas pria cerdas ini. Muhammad Nasir bertutur, ia menjadi langganan juara kelas kala di bangku sekolah. Selalu juara satu di tingkat SD, SMP dan SMA. Memang pendidikan sangat ia perhatikan baik untuk anak-anaknya mapun para staf di kantornya. Bekerja sambil kuliah bagi pegawai. Muhammad Nasir menyadari SDM adalah kunci kemajuan peradaban manusia.
Menurut Muhammad Nasir, perlu mengubah strategi belajar sehingga tidak ketinggalan jauh dari daerah yang sudah maju. ‘‘Jika mereka belajar hanya 1 jam maka kita harus melipatgandakan 2 sampai 3 kali lipat. Terbukti, ketika menempuh kuliah S2 tahun 1988 di Universitas Gajah Mada, hanya dua orang yang sanggup wisuda pertama di angkatan saya, dan saya salah satunya. Seperti saya bilang, harus ada strategi, begitu juga sebagai pemimpin harus punya strategi,” tandasnya.
Strateginya saat kuliah antara lain, setiap kata yang diucap dosen dicatat. Pada saat-saat tertentu ia membawa rekaman seperti wartawan, kemudian dibuat resume dan pendalaman di perpustakaan. “Alhamdulillah target tercapai. Saat itu saya bilang, ketika ada wisuda pertama angkatan saya, maka saya harus ada di sana,” tuturnya berkaca-kaca.
Sebagai seorang birokrat, hampir semua jenjang karir pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sudah ia selesaikan. Misalnya, SPAMA Depdagri tahun 1997 dan Diklatpim Tk. II tahun 2003. Tak ketinggalan pendidikan dan pelatihan fungsional seperti: Induction training tahun 1985, sistem managemen proyek tahun 1986, dan penataran pimpro tahun 1987.
Pendidikan dan pelatihan teknis yaitu perencanaan pembangunan perkebunan tahun 1986, TOT human resource dev (HRD) tahun 1994, dan lokakarya dan pelatihan Kadis Kehutanan Kabupaten tahun 2004.
Muhammad Nasir mengaku memberi perhatian serius ketika menjalani pendidikan baik formal maupun penjenjangan. “Setiap pelatihan dan diklat, saya selalu menjadi orang yang disematkan penghargaan. Saya selalu tekad agar dipanggil naik ke podium. Kita harus memotivasi diri. Motto saya, kalau orang lain bisa, saya juga harus lebih bisa,” pungkasnya.
“Selama 14 tahun 9 bulan saya menjadi staf, diberi kepercayaan dalam pengelolaan proyek, setelah itu baru dapat jabatan struktural yaitu kepala seksi eselon IV.B Disbun Sultra. Selama 1 tahun 3 bulan menjabat di eselon IV.B dapat promosi di eselon III.A di Kota Kendari. Selama 1 tahun dan 11 bulan menjabat di eselon III.A dapat promosi di eselon II.B. Mulai 17 Februari 2003 sampai sekarang menjabat di eselon II,” kenang Muhammad Nasir.
Tahun pertama memimpin Distanak Sultra pada 2014, ia mencoba menggali potensi, kemudian menyiapkan infrastrukturnya yakni alat dan mesin pertanian melalui APBN dan APBD. Pada 2013 dan 2014 PAD Distanak Sultra hanya Rp 200 juta lebih. “Saya lalu mengevaluasi bahwa ada potensi besar yang belum tergali dan terolah dengan maksimal. Setelah itu saya mulai tingkatkan sampai mencapai Rp 1,5 miliar pada tahun 2016,” katanya.
Pegawai Distanak Sultra 600 lebih, sementara yang berkantor di sini 200an, kerja ini adalah kerja bersama, tim work harus bekerja sesuai kewenangan masing-masing. Saya tegaskan kepada semuanya, harus mengerti kewenangan dan tanggung jawab, dari situlah kita bisa berbuat.
“Terus terang saya bekerja di tahun pertama, akhir 2013, bekerja berat sampai 6 bulan pertama. Namun sekarang sistem sudah berjalan, dimanapun saya berada, saya bisa kontrol dan semua berjalan. Terbukti realisasi kerja dan serapan anggaran kita selalu berada di atas,” ujarnya.
Muhammad Nasir meraih penghargaan dari pemerintah, diantaranya Satya Lencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Megawati Sukarnoputri, dan Satya Lencana Karya Satya 30 tahun dari Presiden RI. Penghargaan lain berupa Kepala Dinas Teladan bidang pembinaan PNS tingkat Kabupaten Konawe tahun 2008, dan Kepala Dinas Teladan tingkat Kabupaten Konawe tahun 2009. (bersambung)






