Kendari, Radarsultra.co.id – UPTD Balai Perbibitan dan Pakan Ternak (BPPT) Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra memiliki padang penggembalaan terluas di Sultra. Dimana luasnya baik untuk lahan yang berada di Pondidaha maupun di Konda masing-masing 544 hektar dan 17 hektar.

“Oh iya sudah jelas, itu yang paling luas. Kalau di kabupaten kan paling tinggi 100 ha, kita jauh sekali (544 ha) ini, di atas malah. Ini milik pemerintah (Sultra),” ungkap Kepala UPTD BPPT Distanak Sultra Apolonaryus.
Pengembangan di Desa Tirawuta Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe
Luas lahan yang baru dimanfaatkan di Pondidaha yakni seluas 150 hektar. Dimana saat ini dikembangkan untuk pakan ternak hijauan, paddock sapi, dan juga kuda.
Pakan ternak sendiri terdapat 9 jenis hijauan dari jenis rumput dan leguminosa pohon.

“Jadi ada beberapa jenis, diantaranya Rumput Bede, Rumput Paspalum, Rumput Setaria, Rumput Gajah, Rumput Taiwan, Rumput Odot, Rumput Panicum, Lamtoro, Indigofera, Gamal, dan Turi,” ujarnya.

“Bede sudah ada 30-50 ha, lalu paspalum sekitar 15 ha, gajah sekitar 15 ha juga, dan untuk setaria ada sekitar 5 ha,” lanjutnya.

Sementara untuk paddock Sapi, dari luas 150 hektar telah dibagi ke dalam 12 paddock.
Untuk mengotrol lahan yang luas tersebut, BPPT memilih Kuda sebagai kendaran dalam melakukan pengontrolan padang penggembalaan serta paddock tersebut. Dimana jumlahnya mencapai 4 ekor.

“Kuda ini kita jadikan sebagai pengembangan sekaligus untuk dipakai sebagai pengontrolan. Kan luas itu kalau diapakai semua (544 ha),” bebernya.
Dari jumlah 4 ekor kuda tersebut, 1 ekor merupakan betina. Sehingga, kedepan BPPT berencana untuk mengembangkan sebagai indukan yang hasilnya dapat juga dibagikan kepada petani.
Pengembangan di Desa Alebo Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan
Pengembangan di Alebo terus dilakukan BPPT. Komiditas unggulannya saat ini pakan ternak hijauan, Sapi, dan Ayam Arab.
Untuk pakan ternak hijauan hampir sama dengan di Tirawuta yakni jenis rumput dan leguminosa pohon. Sementara Sapi berjumlah 10 ekor yang dikhususkan untuk produksi sperma beku.

“Yang bagus untuk yang kita produksi sekarang itu ada 10 ekor. Khusus untuk produksi sperma beku,” katanya.
Sapi-sapi tersebut ada yang beratnya mencapai sekira 1 ton. “Iya, beratnya yang paling tinggi hampir 1 ton,” ucapnya.

Terkhusus untuk Ayam, jumlahnya mencapai 800 ekor Ayam. 600 ekor betina dan 200 ekor jantan.

“Kita juga ada Ayam. Ayam Arab. Sekarang ini, tadinya kan 2.500 ekor, tetapi setelah diseleksi yang ada sekarang sekitar 800 ekor,” pungkasnya.
Perencanaan ke depan, BPPT akan terus menggenjot Pendapan Asli Daerah (PAD) sesuai dengan fungsinya. Dimana tahun ini (2018) target PAD-nya mencapai Rp. 50 juta.
Distanak melalui BPPT memiliki program pengembangan peternakan melalui kawin suntik dan padang penggembalaan. Hal itu dilakukan untuk menghasilkan bibit, kemudian diperdagangkan guna meningkatkan sumber PAD Distanak Sultra.(adv)
Laporan: Benny Laponangi






