Kendari, Radarsultra.co.id – Kepala UPTD Balai Perbibitan dan Pakan Ternak (BPPT) Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra, Poly, membeberkan keadaan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ditempatkan di BPPT.
Dimana kata Poly, tidak betahnya para ASN yang ditempatkan di BPPT dan lebih memilih pindah ke dinas. Padahal menurutnya, untuk urusan teknis peternakan tersebut berada di tingkat Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).
“Kendalanya begini, jadi semua pegawai yang di tempatkan di situ, merasa bahwa tidak mampu dia bekerja. Akhirnya baru berjalan berapa tahun dia sudah minta pindah, masuk ke dinas (Distanak). Anehnya lagi, dinas menyetujui, padahal kan tidak boleh. Harusnya itu, menguasai teknis dulu. Kan kalau di dinas, paling hanya urus apa dia? Paling urus administrasi saja. Untuk apa itu? Tapi kalau teknis peternakan itu adanya di UPTD,” ungkap Poly kepada Radarsultra.co.id melalui sambungan telepon, Jumat (31/8/2018).
Ia juga bahkan menyinggung mengenai banyaknya jebolan sarjana peternakan yang mumpuni dari segi titel tetapi tidak banyak menguasai hal yang bersifat teknis seperti dalam memelihara ternak.
“Tapi sarjana-sarjana sekarang itu, lebih senang duduk-duduk di kantor. Daripada pelihara Sapi atau Ayam. Akhirnya banyak sarjana peternakan yang hebat titelnya tapi tidak tahu pelihara ayam, tidak tahu pelihara sapi,” bebernya.
Masih kata Poly, untuk pegawai yang ditempatkan di BPPT itu maksimal mampu bertahan selama 2 tahun. Apalagi yang sifatnya hanya sementara akibat terkena rotasi pegawai. Sementara yang mampu bertahan ialah mereka yang sejak awal di tempatkan di UPTD.
“Iya, banyak yang tidak sanggup, pindah terus. Tidak mau kerja di UPTD. Berat memang, karena kan berurusan dengan ternak. Sementara yang di bidang, di dinas, itu kan dia hanya mengurus administrasi, sementara TPP-nya sama. Itu sebenarnya yang saya biasa vokal dengan kepala dinas kalau kita rapat dinas, bahwa harusnya kita yang di UPTD itu, kita yang cari PAD lantas kita punya tunjangan sama juga dengan mereka-mereka yang ada di dinas itu,” katanya.
“Makanya mereka tidak betah di UPTD, paling tinggi itu 2 tahun sudah banyak mi yang pindah. Kecuali yang dari awal ditempatkan di situ (UPTD), itu bertahan dia. Tapi kalau yang roling-roling (perpindahan) itu. Misalnya Pak Kadis, ada roling, tidak lama itu, karena dia sudah menikmati keenakannya di dinas. Datang, duduk, perjalanan dinas. Kalau kita mana ada yang begitu,” pungkasnya.
Laporan: Benny Laponangi






