Kendari, Radarsultra.co – Meski persentase penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) naik sebesar 0,16 persen dari September 2022, Pj Gubernur Sultra, Andap Budhi Revianto, mengumumkan bahwa indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di Sultra telah menurun pada tahun 2023.
Pj Gubernur Andap ngatakan, Sultra menjadi narasumber dalam kegiatan pendataan dan verval warga miskin di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kewenangan kepala daerah dalam percepatan penanggulangan kemiskinan melalui Pengelolaan Data Kemiskinan Terpadu (PDKT).
“Provinsi Sultra menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan pendataan dan verval warga miskin di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Kegiatahn itu dalam rangka penguatan kewenangan kepala daerah dalam percepatan penanggulangan kemiskinan melalui Pengelolaan Data Kemiskinan Terpadu (PDKT),” kata Andap, Senin, (13/11/2023)
Andap mengingatkan agar pemerintah dan berbagai komponen terkait terus mengendalikan laju inflasi, karena inflasi menjadi salah satu faktor meningkatnya persentase jumlah kemiskinan.
Hal ini berkaitan dengan daya jangkau dan daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Pj Gubernur Andap menyampaikan bahwa informasi terkait inflasi akan terus dipublikasikan, sehingga masyarakat dapat terus mengetahui perkembangannya dan tidak panik menghadapinya.
“Inflasi merupakan persoalan global yang berimbas ke daerah-daerah. Namun, Sultra memiliki ketahanan pangan yang cukup dan pemerintah akan terus melakukan intervensi untuk mengendalikan inflasi,” tambahnya.
Terkait prediksi negatif dampak badai El Nino di Sultra, Pj Gubernur mengatakan bahwa masalah kekeringan berkepanjangan diprediksi hingga Februari 2024.
Namun, Sultra, sebagai daerah di kawasan tropis, memiliki sumber kekayaan pangan lokal sehingga dapat menghadapi dampak El Nino secara bersama-sama.
Sementara itu, Sekda Sultra, Asrun Lio, menjelaskan bahwa indeks kedalaman kemiskinan Provinsi Sultra pada Maret 2023 mengalami penurunan menjadi 1,961 persen poin dari 2,048 persen poin pada September 2022.
Demikian pula, indeks keparahan kemiskinan menurun dari 0,479 menjadi 0,512 dalam periode yang sama.
“Indeks kedalaman kemiskinan mengukur rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin,” ungkap Sekda Asrun Lio.
Untuk diketahui, jumlah penduduk miskin di Sultra pada Maret 2023 mencapai 321 ribu orang, dengan 8 dari 10 penduduk miskin berada di pedesaan.
Sebaran penduduk miskin pedesaan mencapai 241 ribu orang, sedangkan penduduk miskin perkotaan sebanyak 79 ribu orang.* (ADV)






