Ir. Antoni Balaka, M.Si
Kendari, RadarSultra.co.id – Antoni Balaka, lahir di Ujung Pandang, 23 Juli 1962. Ia diangkat sebagai PNS sejak tahun 1988. Diawali sebagai staf Perencanaan Tanaman Pangan. Sebelum itu, ia sempat menangani beberapa proyek transmigrasi, irigasi terpadu, peningkatan produksi tanaman pangan. Setelah itu ia pindah dan diangkat menjadi Kepala Bidang Ketahanan Pangan.
Pria yang tidak terlalu aktif di dunia organisasi ini merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara. Kedua orangtuanya sudah meninggal dunia. Istrinya Halijah, dan memiliki tiga orang anak.
“Dulu masih gabung dengan Dinas Pertanian. Hampir enam tahun menjadi bagian dari Ketahanan Pangan. Kemudian ia menjadi Kepala Bidang Tanaman Pangan,” ujarnya.
Setelah tiga tahun menjadi Kepala Bidang Tanaman Pangan, ia kemudian menjabat sebagai Sekretaris Dinas. Ia menjadi Sekretaris Dinas kurang lebih tiga tahun. Kemudian, kembali menjadi Kepala Bidang Tanaman Pangan selama empat tahun, lalu hingga saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Prasarana dan Sarana.
“Jadi berputar-putar di Tanaman Pangan terus,” jelasnya.
Antoni menuntut ilmu S1 pada jurusan Ilmu Tanah di Universitas Hasanuddin tahun 1986. Berselang lama, ia lalu melanjutkan pendidikan S2 di tahun 1998 pada jurusan Pengembangan Wilayah di Universitas Hasanuddin. Pendidikan 12 tahunnya ia lalui di SD, SMP, dan SMA Negeri 1 Kendari.
Menurutnya, menjadi Pegawai Negeri Sipil sudah memiliki aturan kerja yang jelas. Ia hanya mengikuti aturan dan petunjuk pelaksanaan sesuai dengan fungsinya. Bekerja dan kreativitas bergantung pada pribadi masing-masing orang.
“Kalau aktif banyak yang dikerjakan, kalau pasif maka juga akan sedikit kerjanya,”
Sebutnya pekerjaan banyak tapi bergantung pada kredibilitas orang tersebut. Ia bercerita selama bekerja ia tidak pernah istirahat. Selalu menangani berbagai proyek sejak ia pertama kali mulai bekerja. Menurutnya disiplin dalam bekerja itu sangat penting. Kedisiplinan ia terapkan saat berkantor.
“Saya tidak lalai ke kantor, kecuali kalau lagi ke luar kota. Saya sudah berada di kantor setengah tujuh. Saya konsisten terhadap itu. Makanya kalau ada pegawai yang alasan telat ke kantor karena ada anak dan lainnya. Saya tidak percaya itu, karena saya juga pernah mengalami itu,” tambahnya.
Ia bercerita, ketika dulu ia ke kantor dengan motor saat hujan deras, ia tidak kehabisan akal. Pria yang memiliki tiga anak itu, menggunakan celana pendek dan sandal. Mengantongi pakaian dinasnya, setibanya di kantor ia lalu mengganti pakaiannya.
“Sekarang seharusnya orang tidak lagi beralasan untuk telat ke kantor, karena sudah banyak tersedia jasa transportasi,” sebutnya.
Menjadi kebiasaan yang sudah lama tertanam dalam dirinya, disiplin telah membentuk pola kerjanya, menjadikan pekerjaan tidak lagi sebagai suatu beban, mengerjakan sesuatu hal mesti tuntas, serius, dan dilakukan secara maksimal.
“Karena sudah terbiasa disiplin sehingga kita tidak malas-malasan. Sebab karakter sudah terbentuk selama mengenyam pendidikan,” pungkasnya.
Laporan: Neny Agustianingsih






