TOKOH INSPIRASI PERTANIAN BAGIAN-2
Ir. H. Muhammad Nasir, MS
Melihat prestasi Muhammad Nasir yang mentereng ini, Gubernur Nur Alam, kala itu terpikat ingin memboyongnya ke provinsi. Sebelum menjabat Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra, awalnya Muhammad Nasir mendapat kepercayaan sebagai Kepala BPMPD Provinsi Sultra pada 1 Meret 2012.
Kepercayaan sang gubernur ia jawab dengan prestasi kerja. “Kita mengelola semua sistem yang ada. SDM kita pacu. Saya selalu membimbing secara langsung baik level eselon tiga, lebih-lebih di level paling bawah. Alhamdulillah atas arahan yang intensif tanpa kenal lelah dan merasa bosan untuk melakukan pembinaan, cukup banyak predikat dan prestasi yang secara fungsional diberikan apresiasi oleh pemerintah, baik provinsi maupun pusat,” bebernya.
Hasilnya, capaian kinerja Distanak Sultra diapresiasi oleh Kementerian Pertanian. Distanak Sultra selalu berada pada lima besar terhadap target-target setiap tahun yang diberikan Kementan kepada Pemerintah Provinsi Sultra.
Dalam waktu 10 tahun terakhir, luas panen tumbuh 5,69 persen. Tentu saja produksi juga tergerak naik sebesar 6,21 persen. Di tahun 2017, produksi padi mencapai 711.401 ton. Atas berbagai capaian itu, surplus pada tahun 2017 mencapai 144.158 ton dengan tingkat konsumsi rata-rata sebesar 96,3 kg per kapita per tahun.
Pekerjaan berat Muhammad Nasir berikutnya adalah memproduksi beras premium yang diperoleh dari beras-beras lokal, seperti varietas Mekongga dan Konawe. Di pasaran, beras premium ini diberi nama beras anoa. Beras organik juga disasar. Distanak Sultra memfasilitasi pengembangan beras organik (beras merah) di Kabupaten Buton Utara. Tahun 2018 ini, sebanyak 700 ha lahan padi organik mendapatkan bantuan benih dan pupuk bagi petani yang ada di Butur.
Selain padi, komoditi lain seperti jagung juga mengalami peningkatan yang signifikan. Dari tahun 2016 sampai 2017, produksi naik sebesar 91 persen. Tahun 2016 produksi sebesar 90.007 ton dan tahun 2017 naik menjadi 172.078 ton. Peningkatan tersebut dipengaruhi pula oleh dukungan pemerintah pusat. Tahun 2018, Sultra mendapat alokasi pengembangan jagung hibrida seluas 5.400 ha.
Serapan anggaran pun selalu baik, tidak pernah kena penalti, atau diberikan punishman. Demikina juga di tingkat provinsi, oleh Direktorat Jenderal Anggaran langganan memberikan penghargaan atas capaian dan pelaporan pengelolaan anggaran terbaik. Penghargaan juga diberikan lembaga independen, selain lembaga pemerintah.
Pada Oktober 2018, Muhammad Nasir menerima penghargaan Tokoh Inovatif Birokrasi dari Kendari Pos. Penghargaan ini diberikan karena ia dipandang berhasil memimpin tim Distanak Sultra dalam melakukan swasembada beras dan pengembangan pertanian. Kantor Bahasa Sultra juga memberikan peringkat ke tiga dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bagi Distanak Sultra.
“Intinya, saya bekerja bukan untuk meraih penghargaan. Saya ingin memastikan diri saya bahwa amanah yang diberikan saya kerjakan dengan penuh tanggung jawab, dan harus kita maknai sebagai ibadah,” tandasnya.
Ia tak memilih waktu khusus untuk bekerja. Bagi Muhammad Nasir, semua waktu adalah jam kerja, dimanapun berada ia menyelesaikan pekerjaan tanpa birokrasi bertele-tele. Menurutnya, sebagian besar pekerjaan administrasi tanda tangan, disposisi yang tidak selesai di kantor, ia bawa pulang ke rumah dan selesaikan hari itu juga.
“Saya juga sampaikan ini kepada staf. Bahwa yang akan mengerjakan pekerjaan kita bukan siapa-siapa tetapi kita sendiri. Begitu kita menunda untuk esok hari berarti kita juga menunda capaian-capaian yang akan kita peroleh ke depan. Itulah prinsip kerja saya,” tegasnya.
Meski sangat sibuk Muhammad Nasir tetap memanfaatkan hari libur untuk berolahraga. Aktifitas olahraga badminton ia lakukan dua kali seminggu. “Motto hidup saya, tidak ada kemajuan tanpa perubahan dan perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Seperti kemajuan teknologi harus kita update agar hidup kita maju.” (bersambung)






