Kendari, Radarsultra.co.id – Produksi padi ladang di Sulawesi Tenggara (Sultra) selama dua tahun terakhir mengalami penurunan. Sejak tahun 2016 ke tahun 2017 dan 2017 terhadap 2018.
Berdasarkan data Badan Pusat Stastistik (BPS) Sultra yang dikeluarkan dalam rapat koordinasi bersama Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sultra bersama stakeholder terkait beberapa waktu lalu menunjukkan jika produksi padi ladang terus mengalami penurunan.
Padi Ladang adalah padi yang ditanam di tegal, ladang, kebun atau huma.
Produksi padi ladang tahun 2016 dari luas panen 7.208 hektar didapatkan produksi sebesar 18.643 ton dengan provitas 25,87 kuital per hektar. Kemudian angka produksi ini turun 4,99 persen menjadi 17.712 ton di tahun 2017 dengan provitas 26,67 kuintal per hektar.
Untuk angka ramalan tahun 2018, juga menunjukkan penurunan yang cukup signifikan sekitar 17,61 persen dari sisi produksi menjadi 14.594 ton dengan luas panen hanya 5.219 hektar yang sebelumnya tahun 2017 seluas 6.641 hektar dan tahun 2016 seluas 7.2018 hektar. Kendati demikian untuk provitas mengalami peningkatan masing-masing tahun 2016 ke 2017 3,09 kuintal perhektar dan tahun 2017 terhadap aram 2018 27,96 kuintal per hektar atau 4,85 persen kenaikannya.
“Penurunan ini terjadi diakibatkan oleh sejumlah faktor yakni pupuk dan benih. Ini sama juga kasusnya di dengan padi sawah. Hanya juga perhatian pemerintah terhadap padi ladang masih cukup rendah,” kata Kabid Tanaman Pangan Distanak Provinsi Sultra Suryati Raeba saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/11/2018).
Pihaknya berharap pemanfaatan lahan padi ladang juga harus terus dilakukan oleh pemerintah setempat dan petani agar produksinya juga dapat mengalami peningkatan, apalagi potensi dan pasarnya juga cukup menjanjikan. Sehingga, bagi Pemda yang memiliki potensi untuk pengembangan padi ladang dapat menjadi perhatian.
Laporan: Robiah Adawiah






