1

Luas Lahan Padi Sawah Capai 3.114 Hektar Gagal Panen

radarsultra
1

Kendari, Radarsultra.co.id – Luas lahan padi sawah puso atau gagal panen di Sulawesi Tenggara (Sultra) mencapai 3.114 hektar. Data ini merupakan perhitungan dari Januari hingga Agustus 2018.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra menunjukkan lahan puso pada periode Januari-April 2018 mencapai 502 hektar dari luas tanam 79.060 hektar. Kemudian, periode Mei-Agustus 2018 lahan yang gagal panen 2.612 hektar dari luas tanam 67.394 hektar. Sehingga jika ditotal kedua periode ini dari luas tanam 146.455 hektar ada 3.114 hektar yang gagal panen.

1

Kabupaten Konawe mengalami lahan puso terluas dibanding wilayah lain yakni pada Januari-April luasnya hanya 292 hektar dari luas tanam 27 hektar. Untuk Mei-Agustus lahan puso mencapai 1.078 hektar dari luas tanam 14 ribu hektar, sehingga total lahan puso 1.370 hektar dari 42 ribu hektar luas tanam hingga Agustus 2018.

BACA JUGA :  BPSBTP Kawal Program Pengembangan Padi Organik Butur

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanak Provinsi Sultra, Suryati Raeba mengatakan lahan puso merupakan lahan yang gagal panen dari luas tanam setiap musim tanam padi. Sehingga, yang gagal panen tersebut tidak masuk dalam data produksi padi pada periode tertentu.

“Padi yang mengalami puso ya tidak masuk ke dalam data kita kan,” kata Suryati Raeba saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (10/11/2018).

Sejumlah faktor yang menyebabkan terjadi gagal panen padi sawah di masyarakat adalah persoalan irigasi yang menjadi sumber pengairan.

Kepala Distanak Sultra Muhammad Nasir menyebutkan, bahwa lahan pertanian di wilayah Sultra terdapat pengairan tetapi berasal dari irigasi desa. Di Konawe pun tidak semua beririgasi teknis. Dari hampir 138 ribu hektar, masih ada 28 ribu hektar yang non irigasi.

BACA JUGA :  PAD Distanak Sultra 2016 Melebihi Target

“Inilah yang terancam kekeringan. Kita tentunya menyiasati masalah ini, karena bukan pekerjaan tiba-tiba,” katanya, Kamis (18/10/2018) lalu.

Oleh karena itu, lanjutnya, selain bekerjasama dengan instansi teknis, langkah pertama untuk mengatasi permasalahan yang kerap melanda petani adalah mengedukasinya dalam menghadapi situasi iklim yang ekstrim melalui sekolah lapang di beberapa kabupaten.

Sehingga dengan adanya langkah itu, diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian di wilayah Bumi Anoa khususnya padi. Nasir pun optimis musibah banjir dan kekeringan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pertanian tahun ini.

Laporan: Robiah Adawiah

1
1