1

Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Pilar Dunia Kerja yang Sering Terabaikan

Oleh: Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin

*Ilustrasi
1

Kendari, Radarsultra.co – Setiap pagi, jutaan pekerja di Indonesia meninggalkan rumah dengan satu harapan: pulang dalam keadaan sehat dan selamat. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Di balik roda ekonomi yang terus bergerak, masih tersembunyi banyak potensi bahaya di tempat kerja, baik yang tampak maupun yang tidak terlihat.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sejatinya menjadi fondasi utama dalam dunia kerja. Sayangnya, di banyak sektor, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Isu ini masih kerap dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama.

1

Mengapa K3 Sangat Penting?

K3 merupakan upaya sistematis untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dari risiko cedera dan penyakit akibat pekerjaan. Ini tidak hanya menyangkut penyediaan alat pelindung diri, tetapi juga menyangkut manajemen risiko, pelatihan, budaya perusahaan, dan kepedulian pimpinan terhadap pekerja.

Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), lebih dari 2,3 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan atau penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Itu berarti lebih dari 6.000 nyawa melayang setiap hari karena pekerjaan yang seharusnya menjadi sumber penghidupan.

Di Indonesia sendiri, BPJS Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 300 ribu kasus kecelakaan kerja pada tahun 2023. Angka ini belum termasuk kasus-kasus di sektor informal yang tidak tercatat secara resmi.

K3 Bukan Beban, Tapi Investasi

Masih banyak pelaku usaha yang melihat K3 sebagai biaya tambahan. Padahal, studi dari International Social Security Association (ISSA) menunjukkan bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan untuk K3 akan menghasilkan pengembalian sekitar 2,2 dolar melalui peningkatan produktivitas, pengurangan kecelakaan, dan efisiensi kerja.

BACA JUGA :  Personel Ditpolairud Polda Sultra Kawal Kampanye Pilkada Serentak di Wilayah Perairan Kendari

Karyawan yang merasa aman akan bekerja dengan lebih fokus. Perusahaan pun diuntungkan karena operasional berjalan lancar tanpa terganggu insiden atau kehilangan tenaga kerja akibat kecelakaan.

Isu Kemanusiaan yang Sering Terlupakan

Kecelakaan kerja bukan hanya sekadar angka statistik. Di balik setiap kasus, ada keluarga yang terdampak, ada masa depan yang berubah. Seorang ibu yang kehilangan kesehatan akibat paparan bahan kimia di tempat kerja berarti kehilangan pendapatan bagi keluarganya. Seorang ayah yang tidak bisa bekerja lagi karena cedera berarti anak-anak yang mungkin terpaksa putus sekolah.

Oleh karena itu, keselamatan kerja harus dilihat sebagai bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia, bukan sekadar kewajiban administratif.

*Ilustrasi

Tantangan di Lapangan

Tantangan utama penerapan K3 di Indonesia terletak pada rendahnya kesadaran dan minimnya pengawasan, terutama di sektor informal dan daerah terpencil. Banyak pelaku usaha tidak memahami pentingnya K3, dan sebagian pekerja bahkan menganggap kecelakaan kerja sebagai “takdir”.

Persoalan ini bukan hanya soal teknis. Ini adalah masalah budaya dan pendidikan yang perlu diatasi secara menyeluruh.

BACA JUGA :  Tunjukan Komitmen untuk Tekan Angka Kecelakaan, Asmo Sulsel Berikan Edukasi Safety Riding pada PT Bravo Makassar

Semua Pihak Punya Peran

Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan regulasi yang jelas dan sistem pengawasan yang efektif. Dunia usaha harus mulai melihat K3 sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Lembaga pendidikan bisa berperan membentuk kesadaran sejak dini, dan serikat pekerja harus berani menyuarakan hak-hak atas keselamatan kerja.

Sementara itu, para pekerja juga harus aktif menjaga diri dengan menaati prosedur keselamatan yang berlaku.

Menuju Budaya K3

Penerapan K3 tidak cukup hanya sebatas mengikuti aturan. Ia harus menjadi budaya. Budaya K3 tercipta ketika semua orang, dari pimpinan hingga pekerja lapangan, menyadari pentingnya menjaga keselamatan bersama.

Negara-negara dengan tingkat kecelakaan rendah bukan hanya karena regulasi yang ketat, tetapi karena telah berhasil menanamkan budaya keselamatan dalam keseharian dunia kerja mereka.

Penutup: Saatnya Berubah

Sudah saatnya kita memandang ulang Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kerja. K3 bukan sekadar formalitas, melainkan perlindungan terhadap kehidupan dan martabat manusia.

Kita tidak perlu menunggu bencana untuk berubah. Setiap langkah kecil hari ini dalam membangun budaya K3 adalah investasi untuk masa depan yang lebih aman dan manusiawi.

 

*Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman lapangan oleh Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin, Dosen dan Peneliti Bidang Kesehatan-Kebidanan Universitas Sembilanbelas November Kolaka.

1
1