Kendari, Radarsultra.co – Permasalahan stunting telah menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi oleh Indonesia dalam upaya pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Untuk mengatasi tantangan ini, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 yang mendasari upaya percepatan penurunan stunting secara holistik, integratif, dan berkualitas.
Perpres ini memberikan dasar hukum yang kuat untuk melibatkan semua pemangku kepentingan dalam upaya mengurangi angka stunting di Indonesia.
Di Kota Kendari, upaya percepatan penurunan stunting telah mengalami kemajuan yang signifikan berkat koordinasi yang erat antara berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat.
Dalam sebuah wawancara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kendari, Cornelius Padang, yang diwakili oleh Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kota Kendari, Rukmana mengatakan, terdapat 12 OPD yang secara aktif terlibat dalam upaya penanganan stunting di Kendari.
12 OPD yang secara aktif terlibat dalam upaya penanganan stunting di Kota Kendari yaitu: Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, Dinas Pengandalian Penduduk dan KB, Dinas PPPA, Dinas PUPR, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan, Bagian Pemerintahan, Bappeda, Kemenag Kota Kendari, BPOM Kota Kendari
Rukmana mengungkapkan bahwa koordinasi yang efektif antara OPD-OPD tersebut menjadi kunci utama dalam menangani masalah stunting di Kota Kendari.
“Kami berusaha untuk tidak hanya berkutat pada masalah stunting, tetapi juga menggalang kerja sama lintas sektor agar langkah-langkah yang diambil lebih holistik dan efektif,” ungkapnya, Senin, (31/7/2023).

Dalam konteks ini, Kota Kendari telah mengambil langkah berani dalam menerapkan inovasi-inovasi untuk percepatan penurunan stunting.
Perpres No. 72 Tahun 2021 mendorong pemerintah daerah, termasuk Kota Kendari, untuk mengkoordinasikan, menyinergikan, dan menyinkronkan upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan lembaga terkait dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
Salah satu upaya yang diambil oleh Kota Kendari adalah melalui inisiatif “Inovasi Percepatan Penurunan Stunting di Kota Kendari”. Berikut beberapa inovasi yang telah diterapkan:
– Pembinaan Pelaku Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kelurahan: Upaya ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan untuk lebih proaktif dalam mencegah stunting.
– Peningkatan Kesehatan Ibu dan Bayi: Melalui program Persalinan Sehat dan Selamat serta 3 Dokumen Kependudukan (Persela+2 Dokduk), pemerintah Kota Kendari berusaha memastikan bahwa ibu dan bayi mendapatkan perawatan yang memadai.
– Edukasi dan Pelayanan Kesehatan: Program edukasi kesehatan seperti Pertemuan Ibu Muda, Sehat, Kuat, Inspiratif (Peri Sehati) dan stimulasi pijat bayi (SiBadut Sakti) menjadi langkah nyata dalam mencegah stunting.
– Perbaikan Rumah Keluarga Resiko Stunting: Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi tumbuh kembang anak.
– Pengembangan Pekarangan Pangan Lestari (P2L): Pelatihan B2SA dan Pemberian Bantuan Bibit bertujuan untuk mendorong masyarakat mengonsumsi makanan yang bergizi.
– Pengawasan Keamanan Pangan: Pemeriksaan kandungan pestisida pada makanan segar menjadi langkah penting dalam mencegah masalah kesehatan yang dapat menyebabkan stunting.
– Kampanye Edukasi di Sekolah-sekolah: Upaya edukasi dilakukan di berbagai sekolah di Kota Kendari untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya gizi seimbang.
– Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT): Program ini mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya gizi seimbang melalui edukasi dan dukungan CSR BULOG.
– Gerakan Keluarga Sakinah: Dengan melibatkan masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, gerakan ini berupaya mencegah stunting dari akar permasalahan.
– Bantuan Sosial dan Kolaborasi: Melalui program CSR Bank Indonesia, bantuan sembako disalurkan kepada keluarga resiko stunting sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat yang membutuhkan.
– Pembentukan Satgas Orangtua Asuh: Satuan tugas khusus ini berkolaborasi dengan berbagai lembaga agama dan zakat untuk mempercepat penurunan stunting.
– Publikasi Data Stunting: Data stunting di tingkat kecamatan telah diukur, dianalisis, dan dipublikasikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
– Pemantauan Bumil Resiko Tinggi: Melalui program Bika Suuper, para bidan dan kader siap melakukan pemantauan terhadap ibu hamil yang berisiko tinggi.
– Gerakan Cepat Penanganan Stunting: Upaya pemantauan pertumbuhan dan pemberian vitamin serta edukasi gizi dilakukan untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal.
– Sedia Gizi untuk Keluargaku (Saguku): Program penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak, serta penyediaan makanan tambahan untuk balita.
– Kegiatan Aksi Bergizi Nasional: Melalui kegiatan senam bersama, sarapan serentak, dan edukasi kesehatan, masyarakat diajak untuk menjaga kesehatan dan pencegahan stunting.
Dengan inovasi-inovasi tersebut, Kota Kendari memiliki tekad kuat untuk mengatasi masalah stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat di masa depan.
Semua ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen pemerintah dan masyarakat Kota Kendari dalam mendukung terwujudnya visi negeri yang bebas stunting.

Angka Stunting di Kota Kendari Tahun 2022 Menurun: Upaya Berhasil dalam Penanganan Stunting
Permasalahan stunting telah menjadi fokus utama pemerintah dan masyarakat di Kota Kendari.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan tren positif dalam upaya penanganan stunting, dengan angka stunting yang menurun menjadi 19,5 persen. Angka ini mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2021 yang mencapai 24 persen.
Kota Kendari berhasil mencatatkan angka stunting terendah di wilayah Sulawesi Tenggara, dibandingkan dengan angka kabupaten/kota lainnya.
Dalam rentang 21 persen hingga 41 persen, angka stunting di Kota Kendari tetap menjadi yang terendah.
Pada tahun sebelumnya, Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, telah menekankan kepada berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk serius dan fokus dalam melakukan upaya penanganan kasus stunting di Kota Kendari.
Dengan target yang ambisius, yaitu angka stunting 15 persen pada tahun 2023, pemerintah Kota Kendari terus berupaya meningkatkan efektivitas program-programnya.
Berdasarkan data E-PPGBM puskesmas bulan Agustus, terlihat tren prevalensi balita stunting dari tahun 2020 hingga 2022.
Pada tahun 2020, Kecamatan Puuwatu memiliki prevalensi tertinggi dengan angka 8,8%, diikuti oleh Kecamatan Kendari Barat dengan 8,7%, dan Kecamatan Wua-wua dengan 5,0%.
Namun, terjadi pergeseran pada tahun 2021 dimana Kecamatan Kendari Barat mencatatkan prevalensi stunting tertinggi sebesar 2,2%, disusul oleh Kecamatan Kendari dengan 1,8%, dan Kecamatan Puuwatu dengan 1,5%.
Pada tahun 2022, Kecamatan Kendari menjadi yang memiliki prevalensi stunting tertinggi sebesar 2,7%, diikuti oleh Kecamatan Kendari Barat dengan 2,6%. Pada posisi ketiga, terdapat Kecamatan Abeli dan Kecamatan Wua-wua, masing-masing dengan angka 2,3%.
Terdapat lima Kecamatan dengan angka prevalensi stunting tertinggi dalam periode 2020-2022, yaitu Kecamatan Puuwatu, Kendari Barat, Kendari, Wua-wua, dan Abeli.
Sementara itu, data perkembangan jumlah balita stunting dari tahun 2020 hingga 2022 menunjukkan tren penurunan dari tahun 2020 ke 2021, tetapi mengalami kenaikan di tahun 2022.
Pada tahun 2020, jumlah balita stunting di Kota Kendari adalah 466 orang, yang kemudian turun menjadi 227 orang pada tahun 2021. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan menjadi 365 orang pada tahun 2022.
Meskipun demikian, beberapa Kecamatan seperti Kendari Barat, Kendari, dan Puuwatu masih mencatatkan jumlah balita stunting tertinggi pada tahun 2022.
Namun, ada tiga Kecamatan yang berhasil mengalami penurunan jumlah balita stunting dari tahun 2020-2022, yaitu Kecamatan Mandonga, Baruga, dan Kadia.
Data tersebut menegaskan bahwa meskipun terjadi penurunan, masih ditemukan sebaran jumlah balita stunting yang meningkat, mengindikasikan masih tingginya masalah gizi dan faktor determinan pada balita di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, intervensi gizi spesifik dan sensitif tetap menjadi perhatian utama dalam upaya lanjutan penanganan stunting di Kota Kendari.
Pemerintah Kota Kendari Berkomitmen dalam Percepatan Penanganan Stunting Tahun 2023 melalui Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stunting
Pemerintah Kota Kendari telah mengambil langkah maju dalam upaya percepatan penanganan stunting pada tahun 2023 melalui implementasi Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stunting.
Langkah ini menunjukkan komitmen serius Pemerintah Kota Kendari dalam mengatasi permasalahan stunting dengan pendekatan yang holistik dan melibatkan partisipasi masyarakat.
Sebanyak 111 orang tua asuh telah tergabung dalam gerakan ini, dan mereka telah memilih untuk memberikan perhatian khusus kepada balita atau bayi berusia dua tahun (Baduta) sebagai objek dampingan mereka.
Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, menjelaskan bahwa gerakan ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan tentang pola hidup sehat kepada keluarga yang terlibat.
“Para orang tua asuh akan membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak yang mengalami stunting, kekurangan gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhan anak terganggu sehingga badannya menjadi lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata tinggi anak seusianya. Tidak hanya sampai disitu, tetapi orang tua asuh juga memberikan pendampingan terhadap balita beresiko stunting,” kata Asmawa.
Dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting di Kota Kendari, setiap balita yang beresiko stunting telah diberikan seorang orang tua asuh yang akan bertanggungjawab atas pendampingan dan perawatan mereka.
Namun, gerakan ini tidak hanya berfokus pada balita, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada ibu hamil atau menyusui sebagai objek pendampingan.
“Saat ini tercatat 107 ibu hamil/ibu menyusui yang menjadi objek pendampingan dari gerakan orang tua asuh bebas stunting ini, dan setiap ibu hamil tersebut telah memiliki seorang orang tua asuh bebas stunting yang akan memberikan dukungan dan pendampingan,” ungkap Asmawa Tosepu.
Prestasi yang telah dicapai oleh Kota Kendari dalam menurunkan angka prevalensi balita stunting menjadi 19,5 persen, merupakan hasil dari kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak.
Dengan pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Bebas Stunting, diharapkan angka ini bisa terus diperbaiki.
Pemerintah Kota Kendari optimis bahwa melalui gerakan ini, orang tua asuh akan melakukan berbagai upaya konkret untuk menurunkan angka stunting di wilayah mereka, menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat di masa depan.

Proses Perencanaan dan Penganggaran Stunting di Kota Kendari Dievaluasi oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting
Upaya percepatan penanganan stunting terus menjadi perhatian serius di Kota Kendari.
Dalam rangka memastikan efektivitas langkah-langkah yang telah diambil, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Sekretariat Wakil Presiden RI telah melaksanakan evaluasi terhadap proses perencanaan dan penganggaran program penanganan stunting di kota ini.
Evaluasi ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Kendari dalam menghadirkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Rapat evaluasi ini dilaksanakan di ruang rapat wali kota dan dipimpin oleh Asisten II yang didampingi oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kendari, pada hari Senin (31/7/2023).
Tim Ahli TPPS terlibat dalam proses evaluasi ini, berkolaborasi dengan beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat dalam penanganan stunting di Kota Kendari.
Tenaga Ahli TPPS, Saputera, menjelaskan bahwa tujuan dari evaluasi singkat ini adalah untuk menggali informasi lebih lanjut terkait penanganan stunting di daerah.
Evaluasi ini juga merespon arahan yang sebelumnya telah disampaikan oleh Presiden terkait permasalahan stunting.
Beberapa aspek yang menjadi fokus dalam evaluasi ini meliputi intervensi khusus pada ibu hamil, ibu menyusui, remaja putri, calon pengantin, dan anak-anak hingga usia 5 tahun.
“Rapid assessment ini sebenarnya kami ingin dari satu sisi mempertajam bagaimana proses panjang penganggaran, yang kedua kami ingin memotret bagaimana sih penganggaran di daerah terutama, terkait intervensi spesifik tadi ada ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir, termasuk tadi PMT (pemberian makan tambahan) lokal,” jelas Saputera.
Kepala Bappeda Kota Kendari, Cornelius Padang, menambahkan bahwa capaian Pemerintah Kota Kendari dalam menurunkan angka stunting patut dicontoh.
Dari 24 persen pada tahun 2021, angka stunting berhasil diturunkan menjadi 19,5 persen pada tahun 2022.
“Kalau bahasanya pak wali kota, apa sih yang kurang di Kota Kendari? Bahan makanan cukup, semua daerah sekitar arah memasukkan semua kebutuhan itu ke Kota Kendari, sehingga dari ketersediaan gizi kita cukup. Kemudian tingkat kemiskinan kita juga setiap tahun menurun, IPM kita tertinggi ke empat se Indonesia,” jelas Kepala Bappeda.
Berbagai upaya telah dilakukan melalui kolaborasi berbagai OPD, termasuk program Orang Tua Asuh yang dijalankan oleh Pj Wali Kota Kendari.
Dalam evaluasi ini, Pemerintah Kota Kendari berharap dapat memetakan langkah-langkah yang telah dilakukan serta mengidentifikasi potensi perbaikan lebih lanjut.
Dengan dukungan berbagai faktor, seperti ketersediaan pangan yang cukup dan penurunan tingkat kemiskinan, Kota Kendari yakin bahwa angka stunting dapat terus diturunkan hingga mencapai angka dua digit.
Melalui pendampingan intensif dan kolaboratif, diharapkan bahwa evaluasi kasus stunting Agustus 2023 akan menunjukkan penurunan yang signifikan, mengukuhkan peran Kota Kendari dalam percepatan penanganan stunting secara nasional.
Pemerintah Kota Kendari Melakukan Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Intervensi Audit Kasus Stunting Semester Satu
Pemerintah Kota Kendari terus berupaya memantapkan langkah-langkah dalam percepatan penanganan stunting.
Melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Kendari, kegiatan Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Intervensi Audit Kasus Stunting Semester Satu diadakan sebagai bagian dari komitmen serius dalam mengatasi masalah stunting di kota ini.
Kegiatan ini dibuka oleh Pj Wali Kota Kendari di salah satu hotel di Kota Kendari, pada hari Senin (31/07/2023).
Dalam sambutannya, Pj. Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, menjelaskan bahwa evaluasi ini bertujuan untuk merinci progres perkembangan dalam penanganan stunting di Kota Kendari.
“Kegiatan ini menjadi sebuah media koordinasi dan konsolidasi bagi semua pemangku kepentingan yang telah ditetapkan sebelumnya melalui tim kerja percepatan penurunan stunting,” ujar Asmawa.
Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi seluruh pemangku kepentingan untuk berkoordinasi dan berkolaborasi dalam upaya mengatasi masalah stunting di Kota Kendari.
Asmawa juga menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam membangun Kota Kendari yang lebih baik dan mengurangi angka stunting.
“Saya berharap dalam rapat evaluasi hari ini masing-masing kita bertanggung jawab dalam rangka pembangunan Kota Kendari khususnya penurunan angka stunting,” tambahnya.
Pemerintah Kota Kendari memiliki perhatian yang besar terhadap upaya percepatan penurunan angka stunting, karena stunting dianggap sebagai ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Asmawa mengungkapkan pentingnya untuk merefresh kembali komitmen yang telah disepakati dan menghasilkan solusi yang efektif.
“Ini perlu kita refresh kembali komitmen yang sudah disepakati, gunanya kita mendapatkan solusi dan kemudian kita berbuat yang terbaik untuk Kota Kendari,” tambahnya.
Dalam konteks yang lebih luas, hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mencatat penurunan angka prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara sebesar 2,5% dari 30,2% menjadi 27,7%. Kota Kendari juga telah berhasil mengurangi angka stunting menjadi 19,5% pada tahun 2022.
Kegiatan evaluasi ini dihadiri oleh berbagai tokoh dan pemimpin di Kota Kendari, termasuk Ketua DPRD Kota Kendari, Dandim 1417 Kendari, Ketua Pengadilan Agama Kendari, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat, dan Lurah se Kota Kendari.
Dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen yang tinggi, Pemerintah Kota Kendari terus bergerak maju dalam upaya penanganan stunting demi masa depan yang lebih cerah dan sehat bagi masyarakatnya. (ADV)






