Kendari, Radarsultra.co.id – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan lahan padi sawah yang gagal panen mencapai 3.114 hektar dari luas tanam 146.455 hektar.
Berikut data lengkap luas padi sawah yang mengalami gagal panen di 17 kabupaten/kota se-Sultra periode I (Januari-April), periode II (Mei- Agustus) dan periode total (Januari- Agustus 2018):
1. Buton
Kabupaten Buton periode I luas tanam mencapai 680 hektar, lahan puso 3 hektar. Periode II luas tanam 526 hektar dan luas puso 3 hektar. Sehingga total lahan puso 6 hektar dari total luas tanam 1.206 hektar.
2. Muna
Kabupaten Muna periode I luas tanam mencapai 267 hektar, lahan puso 5 hektar. Periode II luas tanam 350 hektar dan luas puso tidak ada. Sehingga total lahan puso 5 hektar dari total luas tanam 617 hektar.
3. Konawe
Kabupaten Konawe periode I luas tanam mencapai 27.934 hektar, lahan puso 292 hektar. Periode II luas tanam 14.376 hektar dan luas puso 1.078 hektar. Sehingga total lahan puso 1.307 hektar dari total luas tanam 42.310 hektar.
4. Kolaka
Kabupaten Kolaka periode I luas tanam mencapai 6.385 hektar, lahan puso 8 hektar. Periode II luas tanam 8.393 hektar dan luas puso 24 hektar. Sehingga total lahan puso 32 hektar dari total luas tanam 14.779 hektar.
5. Konsel
Kabupaten Buton periode I luas tanam mencapai 18.343 hektar, lahan puso 58 hektar. Periode II luas tanam 15.559 hektar dan luas puso 712 hektar. Sehingga total lahan puso 769 hektar dari total luas tanam 33.902 hektar.
6. Bombana
Kabupaten Bombana periode I luas tanam mencapai 5.867 hektar, lahan puso tidak ada. Periode II luas tanam 10.706 hektar dan luas puso 128 hektar. Sehingga total lahan puso 128 hektar dari total luas tanam 16.573 hektar.
7. Wakatobi (tidak ada produksi)
8. Kolaka Utara
Kabupaten Kolaka Utara periode I luas tanam mencapai 1.221 hektar, lahan puso tidak ada. Periode II luas tanam 1,483 hektar dan luas puso 15 hektar. Sehingga total lahan puso 15 hektar dari total luas tanam 2.704 hektar.
9. Buton Utara
Kabupaten Buton Utara periode I luas tanam mencapai 1.012 hektar, lahan puso tidak ada. Periode II luas tanam 123 hektar dan luas puso juga tidak ada. Sehingga Kabupaten Butur tidak ada lahan puso dari total luas tanam 1.135 hektar.
10. Konawe Utara
Kabupaten Konawe Utara periode I luas tanam mencapai 2.174 hektar, lahan puso 70 hektar. Periode II luas tanam 1.435 hektar dan luas puso 587 hektar. Sehingga total lahan puso 657 hektar dari total luas tanam 3.609 hektar.
11. Kolaka Timur
Kabupaten Kolaka Timur periode I luas tanam mencapai 12.802 hektar, lahan puso 30 hektar. Periode II luas tanam 11.916 hektar dan luas puso 30 hektar. Sehingga total lahan puso 60 hektar dari total luas tanam 24.718 hektar.
12. Konawe Kepulauan
Kabupaten Konawe Kepulauan periode I luas tanam mencapai 210 hektar, lahan puso 21 hektar. Periode II luas tanam 129 hektar dan luas puso tidak ada. Sehingga total lahan puso 21 hektar dari total luas tanam 339 hektar.
13. Muna Barat
Kabupaten Muna Barat periode I luas tanam mencapai 369 hektar, lahan puso 3 hektar. Periode II luas tanam 535 hektar dan luas puso 3 hektar. Sehingga total lahan puso 6 hektar dari total luas tanam 904 hektar.
14. Buton Tengah
Kabupaten Buton Tengah periode I luas tanam mencapai 8 hektar, lahan puso 8 hektar. Periode II luas tanam 2 hektar dan luas puso 2 hektar. Sehingga total lahan puso 10 hektar dari total luas tanam 10 hektar. Jadi, tidak ada yang berhasil diproduksi oleh Kabupaten Buteng.
15. Buton Selatan (tidak ada produksi)
16. Kota Kendari
Kota Kendari periode I luas tanam mencapai 737 hektar, lahan puso tidak ada. Periode II luas tanam 808 hektar dan luas puso 30 hektar. Sehingga total lahan puso 30 hektar dari total luas tanam 1.545 hektar.
17. Kota Baubau
Kota Baubau periode I luas tanam mencapai 1.053 hektar, lahan puso 5 hektar. Periode II luas tanam 1.053 hektar dan luas puso tidak ada. Sehingga total lahan puso 5 hektar dari total luas tanam 2.106 hektar.
Dari data diatas menunjukkan gagal panen yang dialami petani banyak terjadi pada periode II yakni Mei-Agutus 2018. Di mana totalnya mencapi ribuan hingga ratusan hektar. Sementara untuk periode I Januari-April gagal panen yang terjadi cukup kecil.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Kadistanak) Sultra Muhammad Nasir mengungkapkan, asuransi pertanian yang diluncurkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir merupakan program untuk melindungi petani saat gagal panen.
“Di setiap musim tanam, selalu ada petani yang mengalami gagal panen karena berbagai sebab, mulai dari serangan hama, banjir hingga kekeringan. Salah satu solusi untuk menanggulangi kerugian petani adalah melalui pertanggungan asuransi,” jelas Nasir, Selasa (13/11/2018).
Nasir menjelaskan, asuransi pertanian ini mencakup tanaman pangan dan peternakan, yaitu padi sawah, jagung, dan ternak sapi. Pemerintah memberikan subsidi premi bagi petani yang menjadi peserta asuransi. Tahun ini, Sultra menargetkan lahan sawah seluas 20 ribu hektar (ha), jagung hibrida seluas 10 ribu ha, serta ternak sapi sebanyak 500 ekor masuk dalam pertanggungan asuransi.
Laporan: Robiah Adawiah






