1

Setelah Bertengkar Dengan Ibunya, Pria Ini Depresi Hingga Nekat Gantung Diri

1
Wolasi, Konsel, Radarsultra.co.id – Seorang ayah beranak 3 (Tiga) warga Desa Aoma, Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) inisial AG atau GO (27) ditemukan meninggal dunia dengan posisi tergantung di atas pohon jambu milik orang tuanya. Mayat AG pertama kali ditemukan oleh Anton (54) seorang warga pensiunan TNI sekitar pukul 17.30 pada hari Rabu (22/11/2017).
Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Wolasi Konsel, IPTU. Julak Sulohor. Saat dikonfirmasi melalui Via telepon selulernya, dia mengatakan, bahwa korban diduga mengalami tekanan jiwa atau depresi berat hingga akhirnya nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri diatas pohon jambu di kebun milik orang tuanya.

“Memang benar bahwa ada seorang warga yang ditemukan gantung diri di atas pohon jambu, setelah menerima laporan kami langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama dengan Kepala Unit (Kanit) Identivikasi Kepolisian Resor (Polres) Kendari, kita melakukan olah TKP, di TKP diketahui dia tergantung di atas pohon jambu dengan ketinggian sekitar 4,5 meter dari tanah,” kata IPTU Julak Sulohor, Kamis (23/11/2017).

Lanjut IPTU. Julaik, berdasarkan hasil olah TKP, pihaknya menemukan beberapa fakta bahwa di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan, yang ada hanyalah beberapa petunjuk bahwa korban murni melakukan bunuh diri.

1

“Dari ciri-ciri di tubuh korban tidak ditemukan luka-luka memar semacam kekerasan, ditemukanlah ciri-ciri orang gantung diri dengan tubuh membujur, kemudian tangan lurus kebawah dan kedua tangannya mengepal menandakan bahwa korban kesakitan pada saat meregang nyawa, dan  kaki lurus kebawah dan didapati air seni di celananya,” lanjutnya.

BACA JUGA :  Jelang Arus Mudik Lebaran, Ini Persiapan Bandar Udara Haluoleo

Setelah melakukan olah TKP, Polsek Wolasi melanjutkan penyelidikan dengan mengumpulkan informasi dari warga setempat, dari informasi tersebut  saksi yang pertama menemukan mayat korban dan keluarga korban termasuk istri korban dan berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan diketahui bahwa sebelum bunuh diri, korban sempat mengatakan kepada istrinya bahwa ia sudah tidak sanggup lagi menjalani hidup.

Bukan hanya itu, sebelum mengakhiri hidupnya, Almarhum diketahui sempat memarahi Ibunya yang sedang diopname di rumah sakit akibat sakit keras yang dialaminya.Dan penyebab marahnya Almarhum diketahui lantaran kesal bahwa dirinya telah dituduh mencuri Hand Phone (Hp) milik pamannya hingga berbuntut dari pertengkaran tersebut, dan tidak lagi diakui sebagai anak oleh Ibunya.

“Dia sempat memarahi ibu kandungnya yang sementara diopname karena lagi sakit keras, dan korban juga sempat marah-marah akibat dituduh mengambil HP milik Omnya,  sehingga orangtuanya tidak terima baik, akhirnya dia dianggap anak durhaka dan dikatakan bukan anaknya lagi, akibatnya korban depresi dari masalah itu karena sudah dianggap bukan anaknya lagi, kemudian korban sudah merasa bersalah karena sudah memarahi orang ttuanya yang lagi sakit,” paparnya.

Selain itu, tanda-tanda depresi berat juga ditunjukan oleh Almarhum sesaat sebelum melakukan bunuh diri, menurut keterangan dari sang istri korban sempat melontarkan kata-kata yang tidak lazim kepada almarhum suaminya tersebut.

BACA JUGA :  Pj. Gubernur Sultra Apresiasi Atlet Paralimpiade Raih Medali di Peparnas XVII

“Sempat juga kemarin istrinya mengatakan kalau dia mau seisi rumahnya mati saja, katanya kita mati saja sekalian di dalam rumah ini jangan ada yang keluar, dia mau bakar, tapi itu tidak terjadi,” tambahnya.

Tidak lama setelah mengalami gejolak berat di rumahnya, korban pun mengambil seutas tali berwarna biru, tali itu adalah tali bekas ayunan anak bungsunya yang masih berumur 2 (Dua) bulan dan tali itulah yang digunakannya untuk mengakhiri hidupnya.

Foto : Kepolisian menemukan selembar kertas di saku celana korban yang berisikan tulisan dengan menggunakan bahasa Tolaki (Bahasa Suku Asli Kendari) yang artinya. “Ibu saya mohon maaf karena sering menyakiti perasaannya kita (Ibunya). Saya menulis surat ini karena saya tidak sanggup lagi dengan kehidupan ini. lebih baik saya ambil keputusan begini dari pada saya menyimpan sakit hati. Hanya ada satu  permintaanku,  tolong jaga anak-anakku. Mungkin lebih baik saya begini. Tolong mohon ampun dari ujung kaki smpai ujung rambutku,”.

Dari hasil olah TKP, pihak kepolisian menemukan selembar kertas di saku celana korban yang berisikan tulisan dengan menggunakan bahasa Tolaki (Bahasa Suku Asli Kendari) yang artinya. “Ibu saya mohon maaf karena sering menyakiti perasaannya kita (Ibunya). Saya menulis surat ini karena saya tidak sanggup lagi dengan kehidupan ini. lebih baik saya ambil keputusan begini dari pada saya menyimpan sakit hati. Hanya ada satu  permintaanku,  tolong jaga anak-anakku. Mungkin lebih baik saya begini. Tolong mohon ampun dari ujung kaki smpai ujung rambutku,”.

Almarhum  meninggalkan 3 (Tiga) orang anak yang masih kecil dimana anak pertama diketahui masih berumur 3 Tahun, anak kedua berumur 1,2 tahun dan anak bungsunya berumur 2 bulan. Saat ini, jenazah korban telah dimakamkan di belakang rumah ibunya yang tidak jauh dari tempat tinggalnya pada pukul 13.00 Wita, Kamis (23/11/2017), di Desa Aoma, Kecamatan Wolasi, Konsel Sultra. (B)
1
1