Kendari, Radarsultra.co.id – Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) membuahkan hasil maksimal dari program Upaya Khusus (Upsus) padi, jagung, kedelai (Pajale).
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra, Muhammad Nasir mengatakan, Upsus Pajale merupakan program utama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
“Di awal tahun 2016 salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah pendampingan pengawalan di tingkat petani untuk berproduksi. Pendampingan petani sejak mulai tanam sampai panen, sampai melibatkan aparat setempat, dari lurah sampai bupati,” kata Nasir.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Konawe, Syahrudin mengatakan, kini Konawe telah menjadi daerah penghasil padi terbesar di Sultra dengan total produksi tahun 2017 mencapai 233,876 ton padi.
“Tahun 2018 ini luas panen kita bertambah dari tahun sebelumnya, sehingga kita berharap produksi padi tahun ini juga semakin melimpah,” kata Syahrudin, Senin (23/10/2018).
Ia menerangkan, program upsus padi untuk semua kecamatan, kemudian jagung juga hampir semua kecamatan yang ada daerah kering. Sementara untuk cabe ditempatkan di kecamatan Wonggeduku, Lambuya, Onembute dan Abuki.
Dengan Upsus ini, pihaknya berharap dapat mencapai swasembada dan tidak ada lagi yang impor jagung dan surplus padi secara berkelanjutan.
”Dari tahun ke tahun kita surplus beras, kita akan pertahankan itu,” ujarnya.
Menurutnya, untuk pembukaan lahan sawah baru tahun 2014 seluas 950 Ha, 2015 seluas 250 Ha sedangkan tahun 2016, Konawe mendapatkan luasan areal cetak sawah 2.550 Ha.
Dengan demikian, kata dia, tahun 2017 Kabupaten Konawe memiliki 42.750 ribu hektar sawah produktif. Tahun 2017 juga, Kabupaten Konawe mendapatkan lagi bantuan cetak sawah seluas 200 hektar dari pemerintah pusat melalui kementrian Pertanian RI.
”Kita harapkan dari peningkatan produksi ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani kita,” harapnya.
Namun untuk meningkatkan produksi petani, diperlukan sarana dan prasarana pertanian terutama, pengolahan tanahnya yaitu handtractor maupun Jonder (traktor roda empat).
Pihaknya telah menyalurkan kurang lebih 400 unit handtractor dan 18 unit traktor roda empat di tahun 2016 lalu. Sementara tahun 2017, pihaknya menerima 150 handtractor dan 5 tractor dari pemerintah pusat untuk mendukung sarana dan prasarana pertanian.
Selain itu, pihaknya juga mendapat anggaran dari pemerintah pusat untuk perbaikan jaringan irigasi sawah, pengembangan sumber-sumber air melalui dana alokasi khusus (DAK).
”Sasaran dana itu untuk pengadaan embung, parit, irigasi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Tahun 2017 juga ada jalan usaha tani kurang lebih 30 kilo meter yang sumber dananya dari APBD kita,” pungkasnya.
Laporan: Muhammad Randa






