Wawonii, Radarsultra.co – PT Gema Kreasi Perdana (GKP) secara tegas membantah tuduhan bahwa aktivitas pertambangan mereka adalah penyebab utama keruhnya sumber mata air di Roko-roko.
Perusahaan ini menyatakan bahwa keruhnya air disebabkan oleh peningkatan curah hujan di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep).
Koordinator Humas PT GKP, Marlion, menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan di lapangan dengan melibatkan ahli hidrologi dan pemerintah setempat untuk mengetahui penyebab keruhnya air di daerah tersebut.
“Dari hasil pengecekan lapangan dengan melibatkan ahli hidrologi dan pemerintah setempat serta masyarakat desa, didapati bahwa sumber utama keruhnya air karena adanya peningkatan curah hujan di Kabupaten Konawe Kepulauan, yang tengah dalam fase peralihan musim.” jelas Marlion, Senin, (5/6/2023).
Marlion mengatakan, curah hujan yang tinggi ini membawa serta lapisan tanah permukaan, ditambah pula banyaknya anak sungai yang kering
saat musim kemarau, menjadi penuh ketika hujan datang.
Akibatnya, semua lapisan tanah permukaan tersebut mengarah ke sungai besar bahkan juga menerobos sampai ke sumber-sumber air bersih warga.
Sehingga, dua desa di Roko-roko Raya, yakni Desa Sukarela Jaya dan Desa Dompo-Dompo dengan sumber mata air yang sama, secara bersamaan terdampak keruhnya air.
“Kalau masyarakat Wawonii sudah pasti tahu pasti, bagaimana kondisi di sini jika musim hujan datang. Bukan hanya air yang keruh, bahkan ada beberapa wilayah misalkan di Wungkolo (Wawonii Tengah),
tidak dapat dilalui kendaraan, karena banjir. Bahkan, air sudah sejajar dengan pagar jembatan setinggi
1 meter,” kata Marlion.
Menanggapi dampak yang ditimbulkan dari keruhnya sumber air warga, PT GKP telah membentuk tim cepat tanggap untuk memberikan bantuan air bersih kepada desa-desa yang terdampak.
PT GKP melakukan berbagai langkah untuk mengatasi masalah air bersih tersebut.
Langkah pertama yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan air bersih warga dengan memasok air bersih ke rumah-rumah warga menggunakan beberapa water truck dengan kapasitas 5.000 dan 8.000 Liter.
Penyaluran ini dilakukan setiap hari, hingga kondisi air menjadi normal. Air dari water truck berhasil disalurkan langsung ke dalam pipa-pipa yang tersambung langsung ke dalam rumah-rumah warga.
“Tim kita di lapangan melakukan penyaluran, tidak hanya siang hari, bahkan sampai larut malam, sampai semua warga di dua desa tersebut benar-benar sudah mendapatkan pasokan air bersih,” jelas
pria kelahiran Roko-roko ini.
Langkah penanganan lain, yakni membersihkan bak penampung air warga di dua desa. Setelah bersih, water truck akan mengisi bak penampung yang selanjutnya dialirkan ke rumah warga mengikuti jalur pipa yang selama ini digunakan masyarakat.
“Upaya lain yang juga dilakukan perusahaan, yakni membuat sumur bor dan tandon penampungan airbersama masyarakat. Air dari sumur bor ini kemudian dialirkan ke pipa-pipa yang juga selama ini dipakai masyarakat sebagai alternatif pengganti suplai air bersih ke rumah-rumah seluruh warga,”terang Marlion.
Tidak hanya memberikan bantuan air bersih, PT GKP juga sedang melakukan upaya pencarian sumber air bersih dengan melibatkan pemerintah desa dan masyarakat setempat.
“Banyak rumor yang menyatakan
kalau kondisi air keruh ini berdampak ke seluruh desa di Roko-Roko Raya. Sebenarnya tidak seperti itu. Hanya dua desa yang terdampak,” tegasnya.
Ditempat terpisah, warga Desa Sukarela Jaya, Aswan, mengungkapkan, pihaknya mendukung langkah PT GKP dan pemerintah untuk menangani persoalan air bersih di Roko-roko Raya, khususnya di Desa Sukarela Jaya.
“Kita harus bergerak bersama. Dari perusahaan, pemerintah desa, dan juga masyarakat. Kami memberikan informasi kepada perusahaan terkait beberapa sumber air yang bisa digunakan. Kemudian bersama-sama melakukan survey,” ungkap Aswan.
Senada dengan pernyataan Warga, Kepala Desa Sukarela Jaya, Samaga, mengucapkan, upaya pemulihan air bersih ini dapat dilihat sebagai langkah antisipasi untuk semua pihak, termasuk PT GKP yang juga telah menjadi bagian dari komunitas masyarakat di Pulau Wawonii.
“Memang masalah air ini adalah masalah yang sangat vital, sehingga kita perlu melakukan antisipasi dan mencari jalan alternatif agar kebutuhan air bersih warga tidak kekurangan,” ucap Samaga.
Lanjut Samaga menjelaskan, dengan berbagai upaya yang dilakukan bersama perusahaan, kebutuhan air bersih masyarakat sudah bisa terpenuhi.
Ia juga mengimbau semua pihak untuk
tetap tenang dan bijak menanggapi berbagai informasi yang beredar di luar sana dan Kondisi aktivitas di desa tetap berjalan normal.
Menurut Samaga, Kondisi air konsumsi dan air sungai di Wawonii Tenggara perlahan mulai membaik.
Namun, proses perbaikan dan mitigasi masih terus berjalan hingga sekarang. Apalagi, musim hujan di Pulau Wawonii, terbilang cukup panjang.
Penegasan serupa juga disampaikan oleh Camat Wawonii Tenggara, Iskandar, S.Pd, yang mengatakan bahwa isu pencemaran air di Roko-roko Raya adalah tidak benar adanya.
“Itu tidak benar, tidak terjadi (pencemaran). Saya selalu memantau di seluruh wilayah Wawonii Tenggara di mana tambang itu ada, air itu tidak berubah. Jika pencemaran itu terjadi, pasti saya sendiri yang langsung mengkritisi pihak perusahaan karena konsumsi masyarakat di sini sepenuhnya berasal dari sungaisungai kecil dan besar,” Ujar Iskandar.
Lebih jauh dia menegaskan, saat musim hujan datang, wajar jika air keruh karena tercampur dengan aliran air dari permukaan tanah.
Menurutnya, fenomena air keruh ini adalah hal yang biasa terjadi bahkan sebelum hadirnya perusahan tambang di daerah tersebut.
Langkah cepat PT GKP dalam menangani persoalan air bersih yang dialami warga
dua desa di Roko-Roko Raya ini juga mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Konawe Kepulauan, Andi Muhammad
Luthfi.
Menurut Andi Luthfi, hal ini membuktikan tanggung jawab sosial perusahan terhadap masyarakat.
“Kita mengapresiasi atas apa yang dilakukan perusahaan. Menangani persoalan yang sedang dihadapi,
sekaligus juga melakukan antisipasi dan mitigasi untuk jangka panjang,” ujar Wakil Bupati.
Meski demikian, PT GKP juga harus menghadapi tuduhan penyerobotan lahan yang dilontarkan oleh beberapa pihak.
Terkait tuduhan penyerobotan lahan, Manager Strategic Communication PT GKP, Alexander Lieman, menyatakan, perusahaan dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
“Itu (Penyerobotan lahan) tidak benar. Kegiatan land clearing yang dilakukan PT GKP adalah untuk seluruh area yang memang sudah dibebaskan dan sudah diganti untung tanam tumbuhnya. Kami tidak mungkin menyerobot lahan warga,” kata Alexander Lieman.
Aleksander menjelaskan, perusahaan ini telah memperoleh izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dan Izin Usaha Pertambangan-Operasi Produksi (IUP-OP) yang membuat kegiatan pertambangan mereka sah dan berhak dilakukan.
“Dengan kelengkapan izin-izin ini, kami sudah mendapatkan dukungan jelas dari Pemerintah. Tuduhan kriminalisasi ini tidak benar dan mengada-ada,” ungkapnya.
Selain itu, Alexander menambahkan, PT GKP juga memberikan dampak positif bagi perekonomian dan pembangunan lokal.
Hal itu terlihat dari jumlah masyarakat lokal di PT GKP yang mencapai angka 80 persen dan lebih dari separuh jumlah karyawan asli Wawonii adalah masyarkat yang bermukim di lima desa di
Roko-Roko Raya.
“Kami pun tidak akan bisa bekerja dengan baik di pulau ini tanpa dukungan dari masyarakat lokal. Justru dengan bekerja bersama dan saling membangun, kita bisa meningkatkan perekonomian di daerah ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara turut memberikan apresiasi terhadap PT GKP atas pengelolaan penataan ruang kawasan pertambangan dan perhatian perusahaan terhadap pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Asisten III Bidang Administrasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, menyatakan, PT GKP sudah melakukan kegiatan pertambangan sesuai izin yang dimiliki.
“PT GKP sudah melakukan kegiatan pertambangan sesuai dengan izin yang dimiliki. Perusahaan ini juga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sekitar melalui peluang kerja dan pembangunan infrastruktur,” tuturnya.*






