Kendari, Radarsultra.co.id – Akun Facebook (FB) Rahman Ashar sempat heboh dan kontroversi di media sosial lantaran postingannya memuat tentang kontes Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) area Sulawesi Tenggara (Sultra).
Pemilik akun Facebook Rahman Ashar atau Fardhan La Kare membantah bahwa postingan tersebut adalah perbuatannya.

CEO Kreasindo School yang juga PNS dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sultra itu mengatakan bahwa akun FB dengan nama Rahman Ashar telah dihack sejak tahun 2014 yang lalu.
“Memang benar itu akun FB saya tapi Fb saya itu ada yang hack sejak tahun 2014 lalu, dulu nama akun saya itu Fardhan La Kare tapi sejak dihack namanya diganti sama Hackernya jadi Rahman Ashar yang memang itu adalah nama asli saya,” ujar Rahman Ashar saat ditemui Jumat malam (11/8/2017).
“Bukan hanya itu, sejak dihack pada tahun 2014 lalu, pelaku hacker itu juga telah memposting foto-foto yang tidak senonoh di akun FB saya dan yang terakhir ini yang paling parah sampai nyaris menghancurkan karir saya di dunia hiburan dan karir saya sebagai PNS PU Sultra,” lanjutnya.
Menurutnya, aksi Hack tersebut adalah akibat dari kecemburuan sosial dari seseorang yang merasa iri dengan karirnya yang saat ini sedang mengalami perkembangan baik.
“Ini sebenarnya masalah lama, dulu saya pernah terlibat adu fisik, berkelahi dengan seseorang yang diduga pelaku hack ini, kami pernah berkelahi waktu di Makassar dulu, bisa jadi ini juga karena kecemburuan sosial dari orang itu terhadap saya karena mungkin dia sudah liat saya eksis di dunia hiburan dengan ikut bermain dalam film jembatan pensil, dan membuat film juga,” ujar Rahman.
Pihaknya juga mengaku telah dimanfaatkan pelaku hack dan dimintai sejumlah uang dan jika tidak dipenuhi permintaannya pelaku mengancam akan memposting foto-foto bugil di akun Facebook tersebut.
Karena merasa telah dirugikan aksi hacker tersebut, Rahman Ashar mengatakan telah menempuh jalur hukum dan telah melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya.
“Saya sudah melapor ke Polda Metro jaya tahun 2016 lalu karena pada saat itu saya masih melanjutkan study saya di Semarang dan si pelaku yang sudah saya kantongi identitasnya ini adalah orang Bogor yang memang berdomisili di Bogor,” ungkapnya.
Pria kelahiran Kambara, Kabupaten Muna Barat Provinsi Sultra tersebut berharap agar kasus tersebut bisa segera ditindak lanjuti oleh pihak kepolisian mengingat hal tersebut telah mencoreng nama baiknya dan telah mengakibatkan kerugian baik secara financial dan karir.
“Saya harap agar pihak terkait dengan kasus ini baik Polri, Komnas HAM dan perlindungan anak hingga Pakar IT dan Telematika bisa membantu penyelesaian kasus ini. Sebab sudah mulai meresahkan warga dan saya mulai dihindari oleh orang-orang,” katanya.






