Kendari, Radarsultra.co – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari menggelar sarasehan selama dua hari dengan menghadirkan berbagai pihak, termasuk jurnalis, organisasi masyarakat sipil (CSO), akademisi, dan masyarakat terdampak pertambangan pada (21-22/3/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk membangun perspektif bersama mengenai transisi energi dan energi terbarukan yang masih menghadapi berbagai kendala.
Ketua AJI Kendari, Nursadah K, mengungkapkan bahwa masih lemahnya upaya atau dukungan dari pemerintah menjadi salah satu hambatan utama dalam mewujudkan energi terbarukan. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mendorong pemerintah agar lebih berpihak kepada masyarakat dalam proses transisi energi.
“Alhamdulillah, AJI Kendari telah menggelar sarasehan selama dua hari dengan mengundang sejumlah jurnalis, CSO, akademisi, dan masyarakat terdampak tambang. Selama kegiatan, kami berupaya membangun perspektif bersama mengenai transisi energi dan energi terbarukan. Namun, kita masih melihat lemahnya upaya pemerintah dalam mendukung hal ini,” ungkap Nursadah.
Menurutnya, sinergi antara jurnalis, akademisi, CSO, dan masyarakat terdampak sangat penting untuk mendorong perubahan kebijakan. Ia berharap hasil dari sarasehan ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran publik dan mempercepat peralihan ke energi terbarukan.
Salah satu hasil dari sarasehan ini adalah pembentukan forum kolaboratif yang beranggotakan berbagai pihak yang hadir. Forum ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi diskusi, advokasi, serta aksi nyata dalam memperjuangkan transisi energi yang lebih adil dan berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
Taslim, salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, menilai bahwa sarasehan ini sangat bermanfaat, terutama dalam mendorong liputan-liputan terkait transisi energi. Menurutnya, selama ini pemberitaan mengenai transisi energi masih sangat minim, sehingga diskusi seperti ini dapat meningkatkan perhatian terhadap isu tersebut.
“Kegiatannya sangat bagus, terutama karena dapat mendorong liputan-liputan tentang transisi energi. Selama ini, karya jurnalistik yang membahas isu ini masih sangat minim, padahal penting untuk mengedukasi masyarakat dan mengawasi kebijakan pemerintah,” ujar Taslim.
Selain membahas tantangan dalam mewujudkan energi terbarukan, para peserta juga mendiskusikan solusi konkret yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah meningkatkan kapasitas jurnalis dalam meliput isu transisi energi dengan perspektif yang lebih kritis dan berbasis data.
Diharapkan, dengan semakin banyaknya pemberitaan mengenai transisi energi, kesadaran masyarakat dan tekanan kepada pemerintah dapat meningkat. Dengan demikian, pemerintah akan lebih terdorong untuk mengambil langkah nyata dalam mendukung pengembangan energi terbarukan.
Masyarakat terdampak pertambangan yang turut hadir dalam kegiatan ini juga menyampaikan keluh kesah mereka terkait dampak eksploitasi sumber daya alam yang merugikan lingkungan dan kehidupan mereka. Mereka berharap transisi energi dapat segera terwujud agar tidak terus-menerus menjadi korban dari aktivitas pertambangan yang merusak ekosistem.
AJI Kendari dan forum kolaboratif yang telah dibentuk berencana untuk terus mengawal isu ini melalui berbagai program, termasuk pelatihan jurnalis, diskusi publik, dan advokasi kebijakan. Dengan adanya sinergi antara berbagai pihak, diharapkan energi terbarukan bisa menjadi kenyataan di Sulawesi Tenggara.
Sebagai langkah awal, forum ini akan menyusun rencana aksi yang melibatkan berbagai sektor untuk mendorong pengembangan energi terbarukan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan di berbagai daerah lain guna mempercepat transisi energi secara nasional.






