1

Penyerapan Beras Sultra Capai 40 Ribu Ton, Bulog Optimistis Target Tercapai

1

Kendari, Radarsultra.co – Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) terus memacu penyerapan beras dari hasil produksi petani lokal guna memperkuat ketahanan pangan daerah. Hingga akhir April 2026, Bulog Sultra telah menyerap sekitar 40.000 ton beras dari target tahunan sebesar 119.000 ton.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sultra, Benhur Ngkaimi, mengungkapkan bahwa target penyerapan tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 100.000 ton. Meski masih terdapat selisih sekitar 79.000 ton, pihaknya optimistis target tersebut dapat tercapai bahkan berpotensi terlampaui.

1

“Tahun ini target kita 119.000 ton. Saat ini baru masuk kurang lebih 40.000 ton, berarti masih ada sekitar 70 ribuan ton lagi yang harus kita serap,” ujarnya.

BACA JUGA :  Bulog Sultra Catat Lonjakan Serapan Jagung hingga 4.000 Ton

Ia menjelaskan, dengan capaian penyerapan yang terus berjalan serta dukungan stok yang ada, ketahanan pangan di Sulawesi Tenggara diproyeksikan akan semakin kuat hingga akhir tahun.

Menurutnya, meskipun terdapat penyaluran rutin melalui program bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), cadangan beras di gudang Bulog tetap akan berada pada level tinggi.

“Perkiraannya, kalaupun kita salurkan bantuan pangan dan SPHP, maka stok di akhir tahun masih akan lebih dari 120 ribu ton,” jelasnya.

BACA JUGA :  HPS 2019, Perum Bulog Pamerkan Produk Baru Beras FortiVit

Peningkatan target penyerapan ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam memperkuat kedaulatan pangan serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Bulog Sultra juga berkomitmen untuk terus turun langsung ke lapangan guna menyerap hasil panen secara maksimal.

Adapun wilayah utama penyerapan beras di Sultra meliputi Kabupaten Konawe, Bombana, Konawe Selatan, Kolaka Timur, Kolaka, dan Konawe Utara.

Dengan langkah tersebut, diharapkan distribusi dan ketersediaan beras di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara tetap terjaga tanpa ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

1
1