Kendari, Radarstra.co –
Opini.
Moh. Rusman Ramli
Dosen FEB UM. Buton
Setiap kali kita menyaksikan berita tentang anak-anak muda Maroko yang mempertaruhkan nyawa demi mencapai Spanyol, pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa mereka rela mengambil risiko sebesar itu. Mereka berenang menyeberangi laut, memanjat pagar perbatasan Ceuta dan Melilla, atau menempuh jalur berbahaya menuju Kepulauan Canary. Sebagian berhasil tiba di daratan Eropa, sebagian dipulangkan, dan tidak sedikit yang kehilangan nyawa dalam perjalanan.
Peristiwa ini sering dipahami sebagai persoalan migrasi ilegal, pengamanan perbatasan, atau penegakan hukum. Padahal, apabila ditelusuri lebih jauh, fenomena tersebut sesungguhnya mencerminkan persoalan ekonomi yang jauh lebih mendasar. Mereka bukan sedang mencari negara lain. Mereka sedang mencari kesempatan.
Tidak ada seorang pun yang bercita-cita meninggalkan tanah kelahirannya karena keterpaksaan. Sebagian besar manusia ingin hidup, bekerja, membangun keluarga, dan meraih masa depan di lingkungan tempat mereka tumbuh. Namun ketika kesempatan ekonomi semakin terbatas, lapangan kerja sulit diperoleh, dan mobilitas sosial menjadi semakin sempit, perpindahan ke negara lain mulai dipandang sebagai jalan yang rasional.
Data internasional menunjukkan bahwa Maroko secara konsisten menjadi salah satu negara asal migran terbesar menuju Spanyol. Organisasi internasional seperti OECD mencatat bahwa warga kelahiran Maroko merupakan salah satu kelompok migran terbesar di Spanyol. Pada saat yang sama, berbagai laporan mengenai arus migrasi di kawasan Mediterania Barat menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan tingginya pengangguran kaum muda menjadi faktor penting yang mendorong banyak warga Maroko mencoba memasuki wilayah Eropa melalui jalur yang berisiko.
Fenomena tersebut memberikan pelajaran penting bahwa migrasi bukan sekadar perpindahan manusia dari satu negara ke negara lain. Migrasi sering kali merupakan cerminan dari perpindahan harapan. Ketika kesempatan tidak lagi ditemukan di tanah kelahirannya, seseorang akan mencari kesempatan itu di tempat lain.
Dalam ilmu ekonomi pembangunan, gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Michael P. Todaro menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk bermigrasi lebih dipengaruhi oleh harapan memperoleh pendapatan dan kesempatan yang lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi yang sedang dihadapi. Dengan kata lain, manusia tidak hanya merespons kondisi saat ini, tetapi juga merespons harapan terhadap masa depan.
Pelajaran tersebut sesungguhnya tidak asing bagi Indonesia
Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, ribuan bahkan jutaan warga Indonesia memilih bekerja di Malaysia. Sebagian besar berangkat melalui jalur resmi, tetapi tidak sedikit pula yang menempuh jalur tidak berdokumen. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan kesempatan kerja yang terbatas. Malaysia dipandang sebagai tempat yang mampu memberikan penghasilan lebih baik dibandingkan pekerjaan yang tersedia di daerah asal.
Bagi banyak keluarga Indonesia pada masa itu, bekerja di Malaysia bukanlah pilihan yang mudah. Mereka harus meninggalkan pasangan, anak, dan orang tua selama bertahun-tahun. Mereka menghadapi ketidakpastian hukum, eksploitasi, hingga berbagai persoalan sosial. Namun mereka tetap berangkat karena melihat adanya peluang memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga.
Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa migrasi ekonomi bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia merupakan respons terhadap ketimpangan kesempatan. Ketika masyarakat merasa ruang untuk berkembang semakin sempit, mereka akan mencari ruang tersebut di tempat lain. Oleh karena itu, persoalan migrasi tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan perpindahan penduduk, tetapi juga sebagai indikator bagaimana suatu perekonomian menyediakan kesempatan bagi warganya.
Di sinilah kita perlu mengubah cara memandang pembangunan ekonomi
Selama bertahun-tahun, keberhasilan pembangunan sering diukur melalui pertumbuhan produk domestik bruto, peningkatan investasi, atau besarnya belanja pemerintah. Indikator-indikator tersebut memang penting, tetapi belum sepenuhnya menjawab pertanyaan yang paling mendasar: apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar menciptakan kesempatan bagi masyarakat?
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan secara merata. Sebuah negara dapat mencatat pertumbuhan yang baik, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi pengangguran kaum muda, ketimpangan pendapatan, atau terbatasnya kesempatan usaha. Sebaliknya, pembangunan yang berkualitas adalah pembangunan yang mampu memperluas akses masyarakat terhadap pekerjaan, pendidikan, pembiayaan, teknologi, dan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.
Dalam konteks inilah kewirausahaan memperoleh makna yang lebih strategis
Sering kali kewirausahaan dipahami hanya sebagai aktivitas membuka usaha. Pandangan tersebut terlalu sempit. Dalam perspektif ekonomi, kewirausahaan merupakan proses menciptakan nilai tambah melalui inovasi, keberanian mengambil risiko yang terukur, dan kemampuan mengubah sumber daya menjadi kegiatan ekonomi yang produktif.
Joseph Schumpeter menyebut wirausahawan sebagai agen perubahan yang mendorong lahirnya inovasi dalam perekonomian. Melalui inovasi itulah muncul produk baru, pasar baru, metode produksi baru, dan pada akhirnya kesempatan ekonomi baru. Karena itu, kewirausahaan bukan sekadar persoalan berdagang atau memperoleh keuntungan, melainkan bagian dari dinamika pembangunan ekonomi.
Namun demikian, mengatakan bahwa kewirausahaan adalah solusi tunggal terhadap persoalan pengangguran atau migrasi tentu merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Perekonomian sebuah negara dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kualitas pendidikan, stabilitas politik, investasi, infrastruktur, perkembangan industri, hingga kondisi ekonomi global.
Oleh karena itu, lebih tepat apabila kewirausahaan dipandang sebagai salah satu variabel penting dalam membangun perekonomian yang sehat.
Perekonomian yang sehat tidak hanya ditandai oleh tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk berkarya. Dalam perekonomian seperti itu, masyarakat memiliki akses terhadap pembiayaan, memperoleh pendidikan yang memadai, menikmati regulasi yang sederhana, serta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan usaha.
Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat penting
Pemerintah tidak mungkin menyediakan pekerjaan bagi seluruh penduduknya. Demikian pula perusahaan-perusahaan besar memiliki keterbatasan dalam menyerap tenaga kerja. Akan tetapi, pemerintah memiliki kemampuan untuk membangun ekosistem yang memungkinkan kesempatan ekonomi tumbuh.
Ekosistem tersebut diwujudkan melalui kebijakan yang mendorong investasi, memperbaiki kualitas pendidikan, memperluas akses pembiayaan, menyederhanakan perizinan usaha, memperkuat perlindungan hukum, mengembangkan infrastruktur, serta membuka akses pasar bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah.
Ketika ekosistem tersebut berjalan dengan baik, kewirausahaan akan tumbuh secara alami. Masyarakat tidak dipaksa menjadi pengusaha, tetapi diberikan kesempatan untuk memilih dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Sebagian akan bekerja di sektor formal, sebagian membangun usaha sendiri, dan sebagian lainnya menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Seluruhnya menjadi bagian dari perekonomian yang saling menguatkan.
Pelajaran dari Maroko maupun pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa manusia akan selalu bergerak menuju tempat yang memberikan harapan. Karena itu, pembangunan yang berhasil bukan hanya mampu meningkatkan pendapatan nasional, tetapi juga mampu menghadirkan keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun di negeri sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah negara tidak semata-mata diukur dari besarnya angka pertumbuhan ekonomi atau megahnya pembangunan fisik. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika generasi mudanya tidak merasa harus meninggalkan tanah kelahirannya demi memperoleh kehidupan yang layak.
Mereka yang berusaha menyeberang dari Maroko ke Spanyol, ataupun para pekerja Indonesia yang pada dekade 1980-an dan 1990-an berangkat ke Malaysia, sesungguhnya menyampaikan pesan yang sama. Mereka tidak sedang meninggalkan negerinya karena tidak mencintainya. Mereka sedang mencari kesempatan yang belum mereka temukan di rumahnya sendiri.
Tugas pembangunan bukanlah menahan manusia agar tidak berpindah. Tugas pembangunan adalah memastikan bahwa setiap warga memiliki kesempatan yang adil untuk tumbuh, bekerja, berinovasi, dan membangun masa depan di tanah kelahirannya. Ketika kesempatan itu tersedia melalui kebijakan publik yang inklusif, pendidikan yang berkualitas, investasi yang produktif, dan ekosistem kewirausahaan yang sehat, maka harapan tidak lagi harus dicari di seberang perbatasan. Harapan dapat tumbuh di rumah sendiri.***






