Kolaka, Radarsultra.co – Dosen Universitas Sembilanbelas November Kolaka melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan reproduksi remaja dan pemeriksaan golongan darah di SMAS Islam Terpadu Wihdatul Ummah Kolaka sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini serta memberikan informasi dasar kesehatan melalui layanan pemeriksaan golongan darah.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan oleh dua dosen Program Studi Keperawatan Universitas Sembilanbelas November Kolaka, yakni Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin, S.S.T., M.Keb dan Ns. Nuridah, S.Kep., M.Kep, dengan melibatkan lima orang mahasiswa keperawatan. Pelibatan mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kompetensi, pengalaman belajar lapangan, serta kepedulian sosial terhadap persoalan kesehatan di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan penyampaian materi edukasi kesehatan reproduksi remaja yang mencakup pemahaman mengenai perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi, serta upaya pencegahan perilaku berisiko yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan. Materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif agar mudah dipahami oleh para siswa.
Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin menjelaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi sangat penting diberikan sejak usia sekolah. “Melalui kegiatan ini, kami berharap para remaja memiliki pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi sehingga mampu menjaga diri dan mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan mereka,” ujarnya.
Selain edukasi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pemeriksaan golongan darah bagi para siswa. Pemeriksaan tersebut bertujuan memberikan informasi dasar mengenai golongan darah masing-masing peserta yang sangat penting untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di masa mendatang, seperti penanganan kondisi darurat medis dan transfusi darah.
Ns. Nuridah menegaskan bahwa pemeriksaan golongan darah memiliki manfaat penting bagi remaja. “Mengetahui golongan darah sejak dini sangat bermanfaat untuk kesiapsiagaan dalam kondisi darurat medis serta sebagai bagian dari data kesehatan pribadi,” jelasnya.
Dari pihak sekolah, Ustadzha Kisti menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi kesehatan reproduksi dan pemeriksaan golongan darah sangat bermanfaat bagi siswa. “Kegiatan ini memberikan pengetahuan yang sangat penting bagi peserta didik kami, khususnya dalam memahami kesehatan diri sejak remaja. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada Jumat, (23/01/26), Universitas Sembilanbelas November Kolaka diharapkan terus berkontribusi aktif dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di kalangan remaja, melalui pendekatan edukatif dan preventif di lingkungan sekolah.
Kolaka, Radarsultra.co – Kemajuan teknologi telah mengubah cara remaja memperoleh informasi. Jika dahulu buku, guru, dan orang tua menjadi sumber utama pengetahuan, kini sebagian besar remaja lebih dahulu bertanya kepada internet atau media sosial. Dalam hitungan detik, ribuan informasi dapat diperoleh hanya melalui telepon genggam. Sayangnya, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti dengan kemampuan membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan.
Fenomena ini menjadi tantangan serius, terutama dalam isu kesehatan reproduksi. Tidak sedikit remaja yang masih mempercayai mitos mengenai pubertas, menstruasi, mimpi basah, hingga cara menjaga kesehatan organ reproduksi. Informasi yang keliru kemudian diwariskan dari teman sebaya kepada teman lainnya sehingga membentuk pemahaman yang salah. Akibatnya, keputusan yang diambil pun sering kali tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar.
Di sinilah pentingnya literasi kesehatan reproduksi. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca atau menerima informasi, tetapi kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Remaja yang memiliki literasi kesehatan yang baik akan lebih mampu mengenali perubahan tubuhnya, memahami cara menjaga kesehatan reproduksi, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan kesehatan dirinya.
Literasi kesehatan reproduksi juga memiliki hubungan yang erat dengan kualitas hidup remaja. Pengetahuan yang baik akan membentuk sikap yang positif, sedangkan sikap yang positif akan mendorong munculnya perilaku sehat. Dengan demikian, peningkatan literasi bukan hanya berdampak pada bertambahnya pengetahuan, tetapi juga berkontribusi terhadap pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat, kemampuan menolak informasi yang menyesatkan, serta keberanian mencari bantuan kepada tenaga kesehatan ketika menghadapi masalah reproduksi. Berbagai kajian menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi yang tepat dapat meningkatkan pengetahuan dan membentuk perilaku pencegahan terhadap berbagai risiko kesehatan reproduksi pada remaja.
Sayangnya, pembahasan mengenai kesehatan reproduksi masih sering dianggap sebagai topik yang sensitif. Banyak remaja merasa malu bertanya kepada orang tua maupun guru. Akibatnya, media sosial menjadi tempat pertama mencari jawaban. Padahal, algoritma media sosial tidak dirancang untuk memastikan kebenaran ilmiah suatu informasi. Remaja yang belum memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah menerima informasi yang viral daripada informasi yang valid.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Universitas Sembilanbelas November Kolaka melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja di SMAS IT Wihdatul Ummah. Namun, tujuan kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi semata. Fokus utamanya adalah membangun literasi kesehatan reproduksi sehingga peserta mampu memahami informasi secara benar, berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang diterima, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan peserta, tetapi membangun literasi kesehatan reproduksi agar remaja mampu memilah informasi yang benar, berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang mereka terima, serta berani mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga kesehatan dirinya,” ujar Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin.
Melalui metode edukasi interaktif, diskusi kelompok, dan tanya jawab, peserta diajak memahami perubahan fisik dan psikologis selama masa pubertas, pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, serta cara memperoleh informasi kesehatan dari sumber yang kredibel. Pendekatan dialogis ini memberikan ruang bagi remaja untuk menyampaikan pertanyaan yang selama ini sulit mereka ungkapkan.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa literasi dan pengetahuan peserta mengenai kesehatan reproduksi mengalami peningkatan. Peserta tidak hanya mampu menjawab pertanyaan terkait materi yang diberikan, tetapi juga menunjukkan perubahan cara pandang terhadap pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak usia remaja. Mereka menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi, lebih memahami perubahan yang terjadi pada dirinya, dan lebih percaya diri untuk berdiskusi mengenai isu kesehatan dengan guru maupun tenaga kesehatan.
“Kami melihat bahwa ketika remaja diberikan ruang untuk berdiskusi secara terbuka dan mendapatkan informasi yang ilmiah serta mudah dipahami, mereka menjadi lebih percaya diri untuk bertanya, lebih kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial, dan lebih siap menerapkan perilaku hidup sehat. Inilah esensi dari literasi kesehatan yang ingin kami bangun melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” tambah Nuridah.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bahwa peningkatan literasi merupakan luaran yang jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar peningkatan skor pengetahuan. Pengetahuan dapat terlupakan, tetapi literasi akan menjadi bekal yang terus digunakan ketika remaja menghadapi berbagai situasi dalam kehidupannya. Remaja yang memiliki literasi kesehatan yang baik akan lebih siap mengambil keputusan yang tepat, lebih mampu melindungi dirinya dari perilaku berisiko, dan lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sebagai investasi jangka panjang.
Di sisi lain, manfaat literasi kesehatan reproduksi tidak hanya dirasakan oleh individu. Remaja yang memahami informasi kesehatan secara benar akan menjadi sumber informasi yang positif bagi lingkungan sekitarnya. Mereka dapat menjadi agen perubahan di sekolah, keluarga, maupun masyarakat dengan menyebarkan informasi yang benar dan membantu meluruskan berbagai mitos yang masih berkembang. Efek berantai inilah yang menjadikan literasi kesehatan memiliki dampak sosial yang sangat besar.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, hasil-hasil akademik tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium, tetapi hadir dalam bentuk edukasi yang mudah dipahami dan memberikan manfaat nyata. Pengalaman pengabdian yang dilakukan menunjukkan bahwa ketika remaja diberikan ruang belajar yang nyaman, materi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan kesempatan untuk berdialog secara terbuka, maka peningkatan literasi dapat dicapai secara optimal.
Membangun generasi yang sehat tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan kesehatan yang baik. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan generasi muda untuk memahami dan memanfaatkan informasi kesehatan secara bijaksana. Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi kesehatan reproduksi menjadi salah satu keterampilan hidup (life skills) yang harus dimiliki setiap remaja. Sebab, remaja yang memiliki literasi yang baik hari ini akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih sehat, lebih bertanggung jawab, dan lebih mampu membangun keluarga yang berkualitas pada masa mendatang.
Oleh karena itu, edukasi kesehatan reproduksi hendaknya tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai investasi pembangunan manusia. Setiap peningkatan literasi yang berhasil dicapai merupakan langkah kecil yang akan menghasilkan dampak besar bagi kesehatan generasi mendatang. Kampus, sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan perlu terus bersinergi agar literasi kesehatan reproduksi menjadi budaya belajar yang mengakar di kalangan remaja, bukan sekadar pengetahuan yang berhenti setelah kegiatan edukasi selesai.






