1

Wallacea Expeditions Dorong Perlindungan Hutan Primer dan Warisan Arkeologi Sultra

*Evrard menjelaskan bahwa keterlibatan Naturevolution di Sulawesi dimulai sejak 2012 melalui eksplorasi di kawasan Pegunungan Matarombeo, wilayah terpencil yang dalam berbagai publikasi ilmiah disebut sebagai bagian dari unit hutan hujan primer terbesar yang masih tersisa di Pulau Sulawesi.
1

Kendari, Radarsultra.co – Upaya perlindungan keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di kawasan Wallacea memasuki fase krusial dengan ditutupnya rangkaian Wallacea Expeditions, yang ditandai melalui Presentasi Hasil Ilmiah Wallacea Expeditions sekaligus pengajuan usulan pembentukan lanskap konservasi terpadu seluas sekitar 6.000 kilometer persegi di Sulawesi Tenggara dan wilayah sekitarnya.

Presentasi tersebut memaparkan hasil ekspedisi ilmiah multidisiplin yang mengungkap nilai ekologis, geologis, hidrologis, serta budaya dan arkeologi kawasan Wallacea, yang dinilai sebagai salah satu bentang alam dan sejarah bumi paling penting di Indonesia.

1

Paparan disampaikan oleh Evrard Wendenbaum, Founder & President Naturevolution, organisasi non-pemerintah internasional berbasis di Prancis yang bergerak di bidang konservasi, riset ilmiah, dan eksplorasi wilayah tropis.

Evrard menjelaskan bahwa keterlibatan Naturevolution di Sulawesi dimulai sejak 2012 melalui eksplorasi di kawasan Pegunungan Matarombeo, wilayah terpencil yang dalam berbagai publikasi ilmiah disebut sebagai bagian dari unit hutan hujan primer terbesar yang masih tersisa di Pulau Sulawesi. Sejumlah kawasan penting seperti Sungai Lalindu, sistem gua karst berukuran besar, jembatan alami, serta bentang hutan pegunungan tropis masih ditemukan dalam kondisi relatif utuh.

BACA JUGA :  Massa Mulai Anarkis, Polisi Nyaris Tembakkan Gas Air Mata

Rangkaian Wallacea Expeditions menghasilkan berbagai temuan penting, mulai dari spesies fauna endemik Sulawesi yang rentan punah, data ekologi komprehensif hutan primer, identifikasi daerah tangkapan air (catchment area) yang menjadi sumber air utama bagi ratusan ribu jiwa, hingga temuan budaya arkeologi berupa fragmen keramik, lukisan gua prasejarah, serta indikasi aktivitas manusia purba.

Namun di balik kekayaan tersebut, tekanan terhadap hutan primer Sulawesi semakin nyata. Perluasan perkebunan, pembukaan lahan, serta aktivitas pertambangan terutama nikel telah menyebabkan fragmentasi hutan dalam skala dan kecepatan yang mengkhawatirkan. Analisis peta dan citra satelit menunjukkan tumpang tindih antara kawasan hutan utuh dengan konsesi tambang, jalur pembalakan, serta area penimbunan material tambang.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Gubernur, Ir. Hugua menilai kegiatan ekspedisi dan riset lapangan yang dilakukan di kawasan Gunung Tangkelemboke dan sekitarnya sebagai sebuah keberanian luar biasa. Ia mengungkapkan, tim peneliti yang awalnya direncanakan kembali lebih cepat justru bertahan hampir 50 hari di lapangan, dengan berbagai risiko, demi memahami kondisi kawasan secara menyeluruh.

BACA JUGA :  TPK Hotel Berbintang di Sultra Meningkat

Menurut Hugua, kawasan Gunung Tangkelemboke, Karst Matarombeo, dan wilayah sekitarnya layak diusulkan sebagai kawasan konservasi nasional, terlebih hingga kini belum terdapat izin usaha pertambangan (IUP) yang beroperasi, sehingga peluang penyelamatan kawasan masih terbuka lebar. Meski demikian, kewenangan penetapan status kawasan hutan berada sepenuhnya pada pemerintah pusat.

Ia menegaskan bahwa perlindungan kawasan seluas kurang lebih 6.000 kilometer persegi tersebut sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan sungai-sungai utama, seperti Sungai Lasolo, Sungai Walalindo, dan Sungai Konaweha, yang menopang kehidupan masyarakat di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan.

Seluruh temuan ilmiah dari Wallacea Expeditions kini dihimpun sebagai dasar advokasi dan bahan pembahasan bersama kementerian terkait, dengan harapan kawasan ini dapat ditetapkan sebagai Taman Nasional sekaligus UNESCO Global Geopark.

1
1