Kendari, Radarsultra.co – Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara, Dr. H. Mz. Amirul Tamim, M.Si., menilai Sulawesi Tenggara telah mengalami kemajuan yang signifikan dalam 62 tahun perjalanannya sebagai provinsi. Meski demikian, ia menegaskan masih banyak tantangan yang harus diselesaikan, terutama dalam pengembangan infrastruktur, pariwisata, dan ekonomi lokal.
Hal tersebut disampaikan Amirul Tamim dalam dialog bertajuk “Kemajuan Sulawesi Tenggara, Tantangan dan Potensi Pariwisata serta Ekonomi Lokal” yang digelar di Kantor perwakilan DPD RI Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya melihat kekurangan yang masih ada, tetapi juga perlu mengapresiasi capaian pembangunan yang telah diraih berkat kontribusi para pemimpin terdahulu.
“Saya berani mengatakan bahwa Sulawesi Tenggara hari ini jauh lebih maju dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Karena itu, kita patut memberikan penghargaan kepada para pendahulu yang telah memimpin dan membangun daerah ini,” ujarnya.

Amirul mengenang kondisi Kota Kendari pada masa lalu yang masih dipenuhi rawa dan hanya memiliki infrastruktur yang sangat terbatas. Kini, menurutnya, perkembangan Kota Kendari maupun wilayah lain di Sulawesi Tenggara menunjukkan perubahan yang sangat pesat, termasuk kemudahan akses transportasi yang semakin baik.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kebijakan pemerintah pusat yang implementasinya belum berjalan optimal di daerah. Salah satunya adalah program Koperasi Merah Putih yang dinilai masih membutuhkan kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat agar dapat berjalan efektif.
Di sektor transportasi, Amirul menilai Sulawesi Tenggara memiliki keunggulan karena memiliki banyak bandara yang telah beroperasi di berbagai kabupaten, seperti Muna, Baubau, Kolaka, hingga Wakatobi. Menurutnya, seluruh bandara tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kalau semua potensi bandara ini dimanfaatkan dengan baik, saya yakin Sulawesi Tenggara bisa berkembang lebih cepat,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi pariwisata yang dimiliki Sulawesi Tenggara. Dengan 17 kabupaten dan kota yang memiliki kekayaan budaya, sejarah, serta keindahan alam, daerah ini dinilai memiliki daya saing tinggi sebagai destinasi wisata nasional maupun internasional.
Menurut Amirul, keberagaman budaya masyarakat Buton, Muna, Tolaki, Moronene, hingga keberadaan masyarakat Bali, Jawa, dan Bugis menjadi modal besar untuk mengembangkan wisata budaya. Di sisi lain, benteng bersejarah, peradaban masa lampau, serta kawasan pesisir yang indah menjadi daya tarik wisata alam yang belum tergarap maksimal.

Namun, ia menilai promosi pariwisata masih terkendala oleh keterbatasan konektivitas khususnya di sektor penerbangan. Wisatawan mancanegara yang masuk melalui Jakarta, Bali, atau Yogyakarta masih harus mengeluarkan biaya tinggi dan waktu lebih lama untuk mencapai Sulawesi Tenggara karena minimnya penerbangan langsung.
“Orang yang datang dari Bali misalnya, masih harus transit di Makassar sebelum ke Sulawesi Tenggara. Bahkan jika ingin ke Wakatobi atau Baubau, sering kali harus bermalam terlebih dahulu. Kondisi ini membuat potensi wisata kita belum bisa dijual secara utuh,” jelasnya.
Selain pariwisata, Amirul juga menyoroti persoalan sektor perikanan. Ia menyebut hasil tangkapan nelayan Sulawesi Tenggara sangat melimpah, namun belum didukung fasilitas penyimpanan dan rantai distribusi yang memadai.
Menurutnya, masih minimnya pabrik es dan fasilitas penyimpanan ikan menyebabkan kualitas hasil tangkapan sulit dipertahankan. Di sisi lain, banyak nelayan memilih menjual hasil tangkapannya ke Flores karena akses pasar di daerah tersebut lebih mudah dibandingkan di Sulawesi Tenggara.
“Banyak nelayan kita yang justru beraktivitas di luar daerah karena di sana pasarnya sudah tersedia. Sementara di daerah kita sendiri, potensi ekonomi itu belum sepenuhnya terbangun,” ungkapnya.
Amirul menegaskan bahwa berbagai potensi besar yang dimiliki Sulawesi Tenggara harus didukung melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas transportasi, serta kebijakan yang berpihak pada pengembangan ekonomi lokal. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci agar potensi pariwisata dan perikanan Sulawesi Tenggara dapat berkembang secara optimal dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat.***






