Kendari, Radarsultra.co.id – Tembakau Gorila yang saat ini telah dikategorikan sebagai narkotika golongan satu oleh Menteri Kesehatan rupanya belakangan ini telah banyak beredar di Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kasus beredarnya tembakau gorila di Kota Kendari tersebut ditemukan bersamaan dengan kasus obat mumbul jenis PCC yang beberapa hari ini menggegerkan Kota Kendari.
Kepala Pusdik (Kapusdik) BPOM RI, Henri Siswadi bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sultra, Direktorat Reserse Narkoba, (Ditres Narkoba) Polda Sultra, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kendari dan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra mengatakan telah menemukan seorang pengguna tembakau Gorila yang sedang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kota Kendari dan mengalami gangguan mental pasca menggunakan Narkoba tersebut.
“Hari ini kami sudah melakukan kunjungan di RSJ Kota Kendari untuk mengetahui kondisi dan informasi pasien yang diduga telah mengkonsumsi produk ilegal yang bertuliskan PCC tersebut, satu orang mahasiswa ditemukan dirawat di RSJ dan mahasiswa ini bukan pengguna PCC tapi dia pengguna tembakau Gorila dan hati-hati ternyata di Kendari juga sudah ada tembakau Gorila,” ujar Henri Siswadi, Jumat (15/9/17).
Kembali ke Kasus PCC, data yang diperoleh dari hasil kunjungan Kapusdik ke RSJ Kendari diperoleh informasi bahwa saat ini pasien yang tergolong masih anak dibawah umur berusia 9 tahun dan pasien tertua berusia 35 tahun.
“Dari hasil informasi yang didapatkan di RSJ, bahwa pasien termuda berusia 9 tahun dan yang tertua umur 35 tahun yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, dan sisanya itu ada yang umur 14 sampai 20 tahun keatas,” tukas Henri.
Senada dengan pernyataan Henri, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra, Asrun tombili mengatakan, dari data yang diperolehnya saat ini telah ada 76 korban yang melaporkan diri dengan kasus yang sama yakni PCC.
“Dari 76 korban yang melapor, kalau diprediksi lebih dari 100 orang, karena banyak yang tidak melapor, mungkin karena beberapa faktor baik itu faktor malu, takut dan lainnya, dari 76 korban 57 diantaranya sudah dirawat di RSJ dan saat ini di RSJ yang dirawat tinggal 12 korban dan di RS lain tinggal 15 orang,” ujar Asrun Tombili.






